Tuhanpun Mengajar: Refleksi Tafsiri Singkat Surat Al-Baqarah 31-32

Al-Qur’an adalah sumber hukum yang abadi dalam Islam. Ia bersifat absolut dan tidak terbantahkan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Sebagai Kalam Sang Maha Segalanya yang bersifat qadim, al-Qur’an sudah pasti dan tentunya mengandung segala apapun yang terkait dengan makhluk Allah, malaikat, bangsa jin, manusia, hewan, tumbuhan serta lainnya, yang tampak dan yang tak tampak, berikut segala aktivitas makhluk-makhluk tersebut. Tidak ada yang dialpakan, dilupakan, semua terekam dengan sangat baik dan kuat dalam al-Qur’an. Dari sisi estetika bahasa, al-Qur’an terbukti melampaui karya sastra manapun, tidak di Barat dan tidak pula di Timur yang dapat menyerupainya, apalagi menyamainya.

Posisinya sebagai Kitab Suci yang menghadirkan berbagai solusi kehidupan, membuat ketertarikan siapa saja, tak kenal apa bangsanya, sukunya atau pula agamanya untuk menjadikan al-Qur’an sebagai sumber inspirasi bagi dan untuk kehidupan. Dalam konteks inilah, tulisan dibawah ini ditorehkan sebagai usaha dari hal tersebut.

Teks, Arti dan Refleksi Surat al-Baqarah 31-32

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ  قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. –QS. Al-Baqarah 31-32

Dalam ayat 31, dijelaskan bahwa Allah adalah guru Adam as ketika ia diciptakan. Jika demikian, maka Adam adalah murid yang diajarkan. Allah merupakan Sang Guru hakiki bagi si manusia pertama itu. Guru yang tidak terbatas oleh tempat atau pun waktu mengajari Adam berbagai nama-nama (materi pelajaran). Tanpa disadari Adam, hal itu merupakan persiapan untuk melakoni hidup di kehidupan dunia kelak.

Kisah diawal ayat ini memberikan kita sebuah potret bahwa keberlangsungan kehidupan peradaban manusia -kapanpun- tidaklah dapat dilepaskan dari sebuah aktivitas yang disebut mengajar dan belajar. Ada guru, murid dan  materi pelajaran. Di kemudian hari, pelajaran-pelajaran yang diterima itulah sebagai modal atau persiapan untuk menghadapi kehidupan selanjutnya.

Kata al-asma’(benda-benda) sebagai materi pelajaran yang diberikan Allah, yang merupakan bentuk jama’ atau plural dari al-ism – mengisyaratkan bahwa seorang guru harus memberikan materi pelajaran secara total kepada muridnya, tidak boleh setengah-setengah, apalagi menyembunyikan ilmu karena khawatir kelak sang murid akan menjadi tandingan bagi dirinya.

Selanjutnya, Adam pun diminta Allah untuk “meng-ardh”- sebuah istilah yang digunakan dalam turunan teknis praktek mengajar (amaliyah tadris), sehingga dengan itu mengemuka atau jelaslah pelajaran yang diterima dari Allah SWT kepada Malaikat.

Hal ini bisa juga dipahami sebagai ujian bagi Adam, selain sebagai pengajaran baginya sebagai murid yang telah berilmu agar tidak menyimpan ilmu, tetapi harus membagi-bagi ilmu itu kepada selainnya, yaitu para malaikat. Namun sebelum Adam menjelaskan ilmu yang ia terima, dengan bahasa teksnya ‘aradhahum, ada kata tsumma, yang merupakan huruf ‘athaf yang menunjukkan makna tartib dan tarakhi. Artinya, ketika Adam diajari Allah nama-nama itu, Adam tidak serta merta langsung menerangkannya kepada Malaikat, namun ada jeda atau jarak waktu dalam proses tranformasi ilmu nama-nama itu. Sebagai manusia, Adam tentunya butuh waktu untuk mengingat, merenungi atau menganalisa apa yang ia terima dari Allah SWT, agar tidak salah dalam proses transformasi ilmu itu. Demikian pula seorang guru, kiranya perlu kembali untuk melakukan apa yang dilakukan Adam, agar tidak suu’ul jariyah, mewariskan ilmu yang salah apalagi sesat kepada muridnya. Di sinilah guru perlu untuk belajar kembali dan meluaskan pemahamannya, sehingga tidak terjadi apa yang sering disebut perbedaan pengetahuan guru dan murid hanya lima atau sepuluh menit. Lima atau sepuluh menit sebelum mengajar guru tahu, murid belum tahu. Lima menit atau sepuluh menit sesudah guru mengajar, murid pun tahu. Artinya ilmu guru dan murid telah seimbang.

Selanjutnya, di ayat 32, kita diberi perenungan agar kiranya seorang guru tidaklah diperkenankan merasa sombong atas apa yang ia ketahui, karena sesungguhnya ilmu yang ada padanya, semata-mata adalah bersumber dan berasal dari Allah. Artinya, pada asalnya manusia adalah nol bulat, yang tidak mempunyai apa-apa. Guru haruslah tawadhu, rendah hati tidak ta’ajub ataupun riya’, karena penyakit-penyakit hati ini hanya akan mengotori jiwa ketika beramal. Walhasil, amalnya pun ikut ternoda.

Seorang guru perlu juga meneladani sifat Allah yang bukan hanya mengetahui (aliim) namun juga bijak (hakim), seperti yang termaktub diakhir ayat 32: “Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Al-hakim, yang artinya juga ahli hikmah, memberikan guru sebuah dorongan dan memotivasinya agar dapat bersikap hikmah, sebuah sikap yang lahir dari hati dan batin yang paling dalam.

Wallahu a’lam bi shaawaab

Taman Bahagia, 2-2-2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *