Kesadaran Moral

Jika saja masyarakat itu adalah sebuah bangunan, maka individu-individunya adalah batu-batu yang tersusun dari bawah hingga ke atas bangunan tersebut. Adapun moral ia ibarat paduan material pasir dan semen yang menghubungkan antara batu-batuan itu. Jika paduan material rapuh atau tidak kokoh maka yang terjadi adalah bangunan akan terancam rubuh dan hancur. Demikian pula jika akhlak tidak terbangun antara individu-individu masyarakat, sudah dipastikan, masyarakat itu akhirnya akan mengalami kehancuran. Setiap individu yang tidak bermoral, maka perilakunya akan melemahkan hubungan antara individu-individu lainnya dan secara perlahan akan menghancurkan keutuhan masyarakat.

Dampak atau efek dari perilaku yang tidak bermoral, tidaklah hanya terbatas pada si pelaku saja, namun juga pada individu atau orang lain. Mengkonsumsi minuman-minuman yang memabukkan misalnya atau memakai barang-barang haram lainnya seperti sabu-sabu, heroin dan lainnya tidaklah dapat diklaim bahwa si pemakai menggunakannya atau mengkonsumsinya hanyalah berdampak pada dirinya saja dan tidak membahayakan orang lain. Para tenaga medis memberikan informasi bahwa mengkonsumsi hal-hal di atas bukan hanya memberikan mudharat dan berbagai penyakit pada diri sendiri, namun juga pada orang lain, dan yang paling terdekat adalah pada keturunan serta generasi sesudahnya.

Di samping itu, mengkonsumsi barang-barang haram di atas juga akan berpotensi menyebabkan timbulnya tindakan-tindakan negatif dan buruk atau kejahatan. Singkat kata bahwa perilaku yang tidak bermoral dari seseorang hanya akan membuat keresahan dan ketidaknyamanan orang-orang di sekelilingnya serta masyarakatnya. Kalaupun kita berandai-andai bahwa perilaku tidak bermoral hanya akan membahayakan diri si pelaku, maka paling tidak perbuatannya dianggap telah mencederai tatanan masyarakatnya, karena seorang anggota masyarakat adalah seperti sebuah batu dari susunan batu-batu sebuah bangunan yang bernama masyarakat. Perilaku yang tidak bermoral hanya akan meresahkan hubungan yang ada antara individu-individu masyarakat. Dan, yang paling penting, adalah jika perilaku-perilaku tidak bermoral ini makin meningkat kuantitasnya maka hubungan-hubungan moralpun akan melemah.

Kesimpulannya adalah bahwa setiap prilaku yang tidak bermoral tidak hanya akan membahayakan diri si pelakunya namun juga membahayakan orang lain. Tepatlah kiranya permisalan yang diberikan Rasulullah saw dalam sabdanya:”Seorang mukmin bagi mukmin yang lainnya adalah seperti halnya bangunan yang saling menguatkan sebagian dengan sebagian lainnya” (H. R Muslim). Dalam hadisnya yang lain beliau bersabda:”Orang-orang mukmin adalah seperti halnya seseorang yang jika matanya merasakan sakit, maka semuanya akan merasakan sait, dan jika kepalanya merasakan sakit maka semuanya juga merasakan sakit.” (H R Muslim).

Hadis Rasulullah saw ini selayaknya membuat diri seorang mukmin menyadari akan hakekat keterkaitan hidupnya dengan orang lain. Menyadari bahwa jika ia melakukan perbuatan baik atau buruk maka hasil dari perbuatannya itu juga akan dapat menimpa orang lain.

Selanjutnya, di sisi yang lain, individu sebagai anggota masyarakat kiranya harus dapat menyadari bahwa hal-hal yang terkait dengan maslahat umum adalah dimiliki secara bersama. Artinya bahwa segala sesuatu yang terkait dengan maslahat orang banyak adalah dimiliki oleh setiap individu masyarakat. Sehingga jika individu-individu itu hidup sejahtera, maka masyarakat juga hidup sejahtera. Jika individu-individu itu hidup melarat maka demikian pula dengan masyarakatnya.

Individu-individu dalam masyarakat dapat memberikan motivasi kepada individu lainnya agar dapat mengembangkan kemampuan mereka, sehingga hal-hal yang bersifat material dan immaterial dapat diraih dan dicapai. Hal-hal ini tentunya lebih baik untuk dilakukan daripada individu-individu masyarakat saling mendengki satu sama lainnya.

Sifat dengki dan menginginkan agar orang lain tidak dapat memenuhi kebutuhannya adalah moral yang kurang baik. Moral seperti ini adalah moral yang merusak, yang menurut para pakar Sosiologi dan Ilmu Kejiwaan adalah merupakan penyakit jiwa sosial, karena ia hanya akan membuat masyarakat terpuruk dan tidak bangkit.. Maka karenanya, moral buruk haruslah segera dilenyapkan dari masyarakat dan bersamaan dengan itu pula harus dibangun dan ditanamkan pada diri setiap individu jiwa-jiwa kebaikan, jiwa-jiwa yang suka menolong orang lain.

Jiwa-jiwa kebaikan ini tidaklah didapat kecuali dengan menanamkan nilai-nilai Islam yang selalu menyeru setiap muslim untuk saling tolong menolong dalam hal kebaikan, tidak dalam keburukan dan kemaksiyatan. Allah berfirman (a-Maidah:2):

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.

Masyarakat jelas sangat memiliki hubungan yang erat dengan individu-individunya Jika individu-individu dalam masyarakat telah dapat mencapai peningkatan materil, memiliki moral terpuji dan lain sebagainya. Maka masyarakat secara umum akan merasakan faedah dari keberhasilan atau peningkatan yang telah dicapai individu-individunya. Namun sebaliknya, jika individu-individu dalam masyarakat tersebut malas, tidak melasanakan kewajibannya, selalu mengeluh dan melakukan hal-hal yang dipandang negatif, maka tidak mustahil individu-individu itu akan hidup dalam kefakiran, kemelaratan serta akan terjadi kemerosatan moral. Tentuntanya hal ini akan sangat membahayakan diri mereka sendiri, plus membahayakan orang lain. Setiap individu akan hidup dengan bertopang kepada orang lain. Hal inilah yang dilarang Islam karena dalam ajarannya, Islam mengharamkan segala prilaku yang merusak. Islam melarang sifat malas dan berpasrah diri tanpa usaha karena keduanya dapat melemahkan masyarakat. Rasulullah saw dalam haditsnya pernah berdoa agar kiranya dapat terhindar dari sifat lemah dan malas; “Ya Allah sesungguhnya diriku berlindung kepadamu dari sifat lemah dan malas” (H R. Muslim). Dalam hadisnya yang lain beliau bersabda;”Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah”.(H. R Muslim). Artunya bahwa orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Semua prilaku dan akhlak yang baik tidak akan dapat terwujud kecuali dengan membangun jiwa manusia dengan dasar-dasar keimanan, keyakian dan akidah yang  kuat dan kokoh.Wallahu a’lam bis-shawab

One thought on “Kesadaran Moral”

  1. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatu.
    Ustad Andi Wahyudi.
    Tulisan antum ini bagus dan motivasi bagi guru-guru. Yang seperti ini cocok di jadikan bahan ceramah di waktu rapat kamisan.
    Agar ustad dan ustazagnya termotivasi dan ingat tujuan utamanya adalah mengajar
    Dan mengabdikan ilmunya lillahi taala.
    Walaupun materi sekarang sering juga jadi bahan perdebatan karena tuntutan ekonomi.
    Ya kalau guru2 di sejahtrakan insyaalloh ngk bakalan ada yang daftar pns.
    Semoga kedepan guru raudoh semakin kompak agar tidak rubuh seperti bangunan.
    Saling terjaga silaturrahim antar guru dan gibah di tinggalkan. Raudoh sukses guru2nya sejahtera dan aib-aibnya terjaga.
    Guru adalah guru bukan berebut jabatan di pesantren. Tujuan utama adalah mendidik dan menjadi pendidik.
    Mari kita saling mengingatkan jika ada kesalahan atau kekhilafan guru.
    Saya berharap guru jangan di permalukan di depan guru yang lain apalagi di depan muridnya sendiri.
    Insyaalloh setiap guru akan lebih terjaga kehormatannya dan sifat menyepekan guru tidak akan ada.
    Mari kembali kepada niat awal mengar di raudoh hasah.
    Rasullulloh sallohu alaihiwasallam bersabda: “innamal a’malu binniyati……….”

    Wallohu a’lam bissowab
    Afwan jika ada kata2 yang kurang berkenan ya syeh …ustad Alfadil….Andi wahyuni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *