Membicarakan Tentang Buku; Catatan Membaca “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” (2)

Radinal Mukhtar Harahap

Foto di atas hanyalah sekedar ilustrasi pengantar. Tidak ada sebenarnya kaitan langsung dengan buku “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” yang sedang saya nikmati -sebenarnya masih berusaha untuk tahu isinya- dengan catatan-catatan ringkas ini, kecuali foto di atas adalah salah satu perekam kejadian bahwa saya -bersama Ustadz Qosim Nursheha Dzulhadi, ustadz Imamul Authon Nur, Ustadz Andi Wahyudi, Ustadz Solihin Adin dan Ustadzah Ira Madan pernah disatupanggungkan oleh acara yang berjudul “Haflah Ilmiah”. Ada keterlibatan ustadz Habibi Bee dan Ustadz Dandy Praditia dalam acara yang membincangkan tentang buku-buku tersebut; dari ragam jenisnya, dari ragam isinya, dari ragam bentuknya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Maka, kita tinggalkan sajalah foto itu hanya untuk sekedar sampul catatan ini. Kita lanjut bagaimana isi dari buku setebal 321 halaman terbitan State University of New York ini.

Di catatan sebelumnya, – Makna Sebuah Buku; Catatan Membaca “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” telah dibahas bahwa makna sebuah buku -minimal menurut George N. Atiyeh yang menuliskan pendahuluan untuk buku ini- adalah sesuatu yang hidup sekaligus menghidupkan. Maka, di alinea kedua, masih di pendahuluan, pustakawan dan sarjana yang memperoleh dan mengembangkan banyak koleksi publikasi terkenal dari Kongres tentang Timur Tengah itu memaparkan dampaknya. Dampak dari kesadaran bahwa buku itu adalah entitas yang hidup dan menghidupkan, di Barat -katanya- the study of the book as a vehicle of culture has been common and fruitful, studi terhadap buku-buku sebagai pembentuk budaya dan kultur adalah sesuatu yang umum dan sangat bermanfaat.

Pertanyaannya; bagaimana dengan kita? Apakah dalam pembicaraan kita sehari-hari ada mengulas perihal buku yang sedang dibaca? Atau buku yang hendak dibaca? Atau buku yang ingin dibaca? Atau buku yang tak dibaca-baca? Singkatnya, perihal buku! Adakah? Atau kembali ke gambaran sikap saya di catatan sebelumnya; yang belum menganggap buku sebagai sesuatu yang hidup dan menghidupkan. Hanya berpendapat bahwa buku itu hanyalah benda mati, yang, mau mati, mati-lah!?

Sungguh -paling tidak saya sendiri, pembicaraan saya kadang-kadang sangatlah jauh dari unsur-unsur buku. Saya terkadang lebih suka melihat fenomena dan mengkajinya senalar saya sahaja untuk kemudian membicarakannya seakan-akan saya-lah pakar yang telah mengkajinya. Malu rasanya bila kemudian dalam penuturan-penuturan saya di beberapa jam mengajar ke anak-anak didik, saya tidak tahu sama sekali apa buku baru yang diperbincangkan mereka -meski hanya sekedar novel atau komik sekalipun. Padahal, sebagai guru, seharusnya saya sungguh-sungguh harus bisa memancing-mancing minat mereka bahwa;

Cobalah sesekali kamu ke perpustakaan. Buka buku bla-bla-bla, di sana ada pernyataan bagus sekali. Bunyinya, bla-bla-bla…

Paling tidak, dari sekian banyak murid yang mendengar perkataan di atas, ada satu yang benar-benar datang ke perpustakaan, dan benar-benar membuktikan bahwa pernyataan itu benar.

*****

Bahkan, untuk membicarakan buku ini dalam sebuah catatan panjang pun, saya mampunya masih sampai di baris ini.

Itu pun barangkali, lebih kepada pembicaraan fenomena, bukan buku yang sedang saya bicarakan.
dan, dengan bangganya, saya mencatutkan judul catatan ini; Membicarakan Tentang Buku.
Aih?

*****

Barangkali besok.

Doakanlah.

Setidaknya kita berniat.

Oke?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *