Waspadai Ulama Su’!

Ulama, kata lmam lbn al-Jauzi terbagi dua: ulama dunia dan ulama akhirat. Demikian beliau catat dalam kitab Shaid al-Khathir.

Menurut lmam al-Ghazali ulama juga terbagi dua: waratsatul anbiya’ (pewaris para nabi) dan ulama su’ (ulama jelek, ulama jahat). Lantas, siapakah yang disebut ulama su’ itu?

Kita awali dulu dengan catatan lmam Nawawi al-Jawi al-Banteni, bahwa ulama su’ itu adalah:

كل منافق كثير علم اللسان جاهل القلب والعمل، اتخذ العلم حرفة يتأكل بها وأبهة تيعزز بها، يدعو الناس إلى الله ويفر هو منه. كما قال صلى الله عليه وسلم: 《إن أخوف ما أخاف على أمتى الأئمة المضلون》(رواه الإمام أحمد والطبرانى عن أبى الدرداء، أي: إن من أخوف شيء أخافه على أمتى ذلك

Ulama su’ itu adalah: setiap munafiq yang lewat lisannya ilmu banyak keluar, namun jahil secara hati dan amal. Dia jadikan ilmunya sebagai alat pencari makan dan kebanggaan untuk dipamerkan. Ia menyeru manusia kepada Allah, padahal dirinya lari dari Allah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Saw., `Hal yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah para lmam (ulama) yang menyesatkan.` (HR. Imam Ahmad dan at-Thabrani, dari Abu ad-Darda`). Artinya: yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah hal tersebut. (Lihat, lmam Nawawi al-Jawi al-Banteni, Maraqi al-`Ubudiyyah Syarh Bidayat al-Hidayah (Jakarta: Dar al-Kutub al-lslamiyyah, 1431 H/2010 M), hlm. 14-15).

Mengapa adala ulama su`? Hal ini tak dapat dipisahkan dari proses dia mencari dan menuntut ilmu. Mari perhatikan penjelasan lmam al-Ghazali. Kata beliau, orang yang menuntut ilmu itu modelnya terbagi tiga:

Pertama, yang menuntut ilmu untuk bekal menuju akhirat. Orientasinya adalah menggapai ridha Allah dan Kampung Akhirat. Inilah kelompok yang sukses.

Kedua, yang menuntut ilmu untuk gapai nikmat dunia yang cepat ini. Ingin cari kemuliaan, kehormatan dan harta. Orang ini sebenarnya merasa bahwa ada yang salah dalam hatinya. Ia sebenarnya dalam bahaya. Jika tak cepat, dikhawatirkan mati su` al-khatimah. Jika sempat diterima tobatnya, ini karunia. Dia bisa gabung dengan kelompok pertama.

Ketiga, yang menuntut ilmu dengan tujuan untuk menumpuk harta, berbangga-bangga dengan prestise dan banyaknya pengikut (jamaah).

Model ini, segala celah syahwat duniawi dia masuki dengan ilmunya. Meski begitu, masih merasa bahwa di sisi Allah dia masih punya tempat, karena mengenakan atribut ulama dari sisi pakaian dan logika berpikir. Padahal lahir dan batinnya dipenuhi syahwat duniawi.

Kelompok ini adalah club orang-orang yang binasa, dungu dan tertipu. Tobatnya tak diharapkan, karena begitu yakin masuk ke dalam golongan orang muhsin (baik amalnya). Padahal, dia lalai dari firman Allah:

يآأيها الذين آمنوا لم تقولون مالا تفعلون

Hai orang-orang beriman, mengapa kalian mengatakan hal-hal yang tidak kalian kerjakan (Qs. As-Shaff (61):2).

Dan model orang ini masuk ke dalam apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw.,

أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال. قيل: وما هو يا رسول الله؟ فقال: 《علماء السوء》

Aku lebih takut terhadap kondisi tanpa Dajjal daripada Dajjal itu sendiri. Beliau ditanya: `Apa itu hai Rasulallah?` Kata beliau: Ulama Su`

Dajjal memang tujuan utamanya memang menyesatkan. Tapi `Si Alim` model ini meskipun menyeru manusia agar hindari duniawi dengan lisan dan ceramahnya (pidatonya, orasinya), tapi perilaku dan keadaannya justru mengajak mereka kepada duniawi. Dan, lisan perilaku memang lebih fasih (berpengaruh) dari pada kata-kata. Dan tabiat manusia lebih cemderung diikuti daripada kata-katanya.

Sungguh, amal seorang alim seperti ini lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki dengan kata-katanya. Karena orang jahil tidak akan berani mengejar dunia kecuali dengan adanya contoh keberanian para ulamanya.

Ilmu model Alim seperti ini telah jadi penyeret para hamba Allah untuk bermaksiat kepada-Nya. Nafsunya menjadi “orang ketiga” yang mempermainkannya. Kemudian hawa nafsunya berkhayal betapa jauhnya surga. Kadang berangan-angan pula bahwa dengan ilmunya Allah dia merasa baik di hadapan Allah. Dan, dia merasa lebih saleh daripada hamba-Nya yang lain.

Maka, nasihat lmam al-Ghazali, jadilah golongan pertama. Hati-hati masuk ke dalam golongan kedua. Dan, jangan sampai masuk kelompok ketiga. Karena engkau akan binasa yang tak mungkin diharapkan akan selamat dan baiknya tak mungkin dinantikan. (Lihat, lmam al-Ghazali, Bidayat al-Hidayah (Jakarta: Dar al-Kutub al-lslamiyyah, 1431 H/2010 M), hlm. 10-13).

Semoga umat ini dihindarkan dari para ulama su`: ulama munafiq, menyesatkan umat dengan tingkah-lakunya, meskipun dari lisannya keluar ilmu. Karena ilmu yang bermanfaat, bukan sekadar dihafal dan keluar dari lisan. Tapi, ilmu yang terhunjam dalam hati, kata Abdullah ibn Abbas. Semoga kita pun dihindarkan dari tujuan keliru dan salah dalam menunut ilmu. Wallahu A`lam bis-Shawab. (Medan, 17 Februari 2018)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *