Membangun Jiwa-Jiwa Kebaikan

Dalam Islam, diajarkan, bahwa mendidik moral haruslah dimulai semenjak dini. Anak-anak dididik agar dirinya dapat berbuat kebaikan untuk orang lain sesuai dengan kemampuannya. Demikian pula mereka harus dibimbing agar dapat menjauhi segala perbuatan buruk dan tidak membahayakan orang lain.

Sekali lagi bahwa dalam Islam dinyatakan bahwa manusia tidaklah dapat mengetahui secara sempurna nilai-nilai kebaikan atau keburukan, karena akal manusia begitu terbatas untuk mencapai. Sehingga dengan demikian manusia meembutuhkan petunjuk langit. Dengan petunjuk langit inilah manusia akhirnya dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan dan dengannya pula jiwa-jiwa yang mencintai kebaikan dan jiwa-jiwa yang membenci keburukan akan tersemai di dalam diri manusia. Allah SWT berfirman

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

Keutamaan dari jiwa kebaikan ini adalah tidak sekedar hanya untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan dan menjauhi segala perbuatan yang buruk, namun lebih dari itu adalah mengajarkan kebaikan untuk orang lain. Rasulullah saw selalu memberikan motivasinya bagi orang-orang agar selalu berbuat kebaikan. Dalam hadisnya beliau bersabda:”Sesungguhnya malaikat, para penduduk langit dan bumi…mereka akan selalu menyanjung orang-orang yang mengajarkan kebaikan”. Dalam sabdanya yang lain, beliau menyatakan:”Barang siapa yang menunjukkan kebaikan, maka baginya adalah seperti pahala orang yang melakukan”. (H. R Muslim). Demikianlah bahwa dalam ajaran Islam prihal berbuat baik tidak hanya bagi orang yang dikenal, namun juga berbuat baik bagi yang tidak dikenal, bahkan berbuat baik juga harus dilakukan bagi orang yang berbuat tidak baik atau buruk bagi dirinya:

فَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.

Ayat diatas memberikan informasi bahwa berbuat kebaikan tidaklah hanya terbatas kepada kaum kerabat yang dikenal, namun juga kepada semua orang. Dan yang menariknya bahwa tujuan dari segala perbuatan yang baik itu dilakukan bukanlah untuk mencari materi atau sanjungan orang lain, namun hanyalah untuk menggapai ridha Allah semata dan Allah menyanjung orang-orang yang berbuat demikian dengan ungkapan “orang-orang yang beruntung”.

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman (al-Insan: 8-9):

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا  إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Ayat ini juga memberikan informasinya yang sama dengan ayat diatas bahwa berbuat kebaikan hanyalah “lillah”, mencari keridhaan Allah, bukan untuk mencari manfaat atau keuntungan-keuntungan materi dan hal-hal yang bersifat duniawi. Jiwa-jiwa kebaikan akan selalu cenderung melakukan perbuatan-perbuatan baik dan tidak akan pernah puas untuk selalu melakukan kebaikan-kebaikan itu hingga akhir hayatnya. Hal demikian seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw:”Seorang mukmin tidak akan pernah puas (kenyang) dengan kebaikan hingga ia berakhir dengan surga”.Wallahu a’lam bis-shawab

One thought on “Membangun Jiwa-Jiwa Kebaikan”

  1. Assalamualaikum warohmatullohi wa barokatu.

    Subhanalloh….
    Tulisannya bagus.
    Tetap berkarya Ustad Andi wahyudi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *