Membicarakan Tentang Buku (2); Catatan Membaca “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” (3)

Terkadang, doa itu harus-lah sesuatu yang kita ucapkan setulus hati dan kita perjuangkan melaksanakannya. Adalah hal yang mustahil untuk kemudian kita berdoa, lantas menyerahkan begitu saja perwujudannya, tanpa mau sedikit pun mengusahakan agar keinginan yang kita doakan itu benar-benar terjadi. Silahkan baca buku Lasna fi Zamani Abrahah-nya Raghib al-Sirjani, kita akan mendapatkan bahwa; sejak diberlakukannya syariat Nabi Muhammad, tidak ada lagi “turun tangan” Allah secara langsung sebagaimana Nabi Nuh yang berdoa, lalu banjir. Atau, Abrahah yang menyerang ka’bah, langsung dikirim Ababil. Konsep pertolongan Allah sejak diberlakukannya syariat Nabi Muhammad adalah;

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Maka, agar harapan untuk membicarakan buku -sebagaimana tertulis di akhir catatan sebelumnya, tidak hanya sebatas doa- saya lanjutkan di catatan kedua ini, masih di alinea kedua juga, dari pendahuluan George N. Atiyeh;
Setelah menjelaskan bahwa di Barat -seperti yang sudah saya bicarakan di catatan sebelumnya- the study of the book as a vehicle of culture has been common and fruitful, George N. Atiyeh melanjutkan kalimatnya dengan sentilan menohok;

but is not so in the world of Islam

Dikarenakan tidak begitu populerlah -dalam anggapan George N. Atiyeh, maka ia mengatakan latar belakang konferensi yang dilakukan di Washington DC, 8-9 November 1989.

Katanya; Aware of the need for further studies on the subject, the Library of Congress, which holds one of the largest collections in the world of books and other materials from the Islamic countries, convened an international conference on 8-9 November 1989, and mounted an exhibit in order to discuss and display the role of the book in the development of civilization in the Islamic world. It thus provided an opportunity for a number of distinguished scholars to examine and reflect upon this very important aspect of Islamic civilization, and it is hoped that this would open the doors for further studies. All the papers in this volume, except for my own, were read and discussed, and sometimes debated, by the scholars who wrote them and the scholarly public who attended the conference.

Tak perlu-lah kiranya saya terjemahkan. Silahkan copy-paste langsung saja ke google translate untuk tahu apa sebenarnya yang diperbincangkan hehehe

*****

Membaca kalimat bahasa Inggris yang begitu panjang diterjemahkan oleh google translate, saya menangkap satu hal. Ada konferensi yang melatarbelakangi terwujudnya buku ini. Konferensi tersebut membicarakan buku-buku, dimana setiap pakar yang hadir kala itu menyerahkan kertas kerja yang akhirnya dikumpulkan menjadi buku ini. Penasaran siapa-siapakah yang hadir, lalu saya kembali membuka daftar isi buku tersebut agar tahu; tulisan-tulisan siapa saja yang ada di buku ini.

Ada 15 penulis dengan 14 tulisan yang tercantum di sana. Di catatan lain -jikalah pembacaan ini terus berlanjut- insya Allah, akan saya cantumkan. Namun; mengetahui ada 15 pakar, yang kesemuaannya adalah orang-orang yang berkecimpung dalam dunia literasi, berkumpul dan membicarakan buku-buku yang menjadi warisan intelektual dunia Islam, sungguh, itu saja sudah membuat decak kagum yang sangat dahsyat! Subhanallah…

*****

Berkumpul. 15 orang. Dalam satu forum. Membicarakan buku. Sungguh, pemandangan luar biasa, bukan?
Maka, saya teringat dengan salah satu pembekalan yang dilaksanakan di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah yaitu fath al-kutub di mana, bukan hanya 15 orang, melainkan hampir 300 bahkan 500 orang setiap tahunnya membicarakan buku-buku sebagaimana terabadikan saya salah satunya sebagaimana sampul catatan kali ini.

Pertanyaannya, apakah yang 300-500 orang itu terus lanjut membicarakan buku-buku yang sudah mereka bicarakan itu?

Di masa saya dulu nyantri, kami melaksanakannya dengan 150an orang. Tetapi, setelah kegiatan itu, tidak pernah lagi.

Sesaat setelah mengingat itu, saya merenung; benarkah kita adalah orang-orang yang semakin hari, semakin baik? atau -khusus di perihal buku saja- kita adalah orang-orang yang dulunya gigih membicarakan buku, semakin tua, semakin hilang hasrat untuk membicarakannya, apalagi menyentuhnya!

Na’udzubillah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *