Semoga Namaku Tak Berhenti Hanya di Nisan.

Islam pernah mengalami zaman keemasaannya di seluruh penjuru dunia sekitar tahun 750 Masehi sampai 1258 Masehi. Ia berdiri dengan tradisi-tradisi luar biasa yang dijaga. Salah satunya adalah tradisi menjaga dan mengembangkan keilmuan. Dapat dilihat dari tokoh-tokoh yang dilahirkan pada zaman itu seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyyah, ibnu Sina, dan masih banyak lagi ulama-ulama tersohor lainnya. Mereka adalah ulama-ulama yang patut diteladani kalangan yang memahami arti penting sebuah keilmuan. Ibnu Sina misalnya, di usianya yang ke 17 ia sudah terkenal dengan keahliannya di bidang kedokteran. Dalam hidupnya ia berhasil menulis lebih dari 200 buku. Diantara karyanya yang masyhur adalah Al-Qonun fii At-Tibb atau  The Canon of Medicine. Buku ini dijadikan sebagai referensi mahasiswa kedokteran selama berabad-abad di Barat. Bahkan sosoknya dipampang di pajangan dinding besar di Fakultas Kedokteran Universitas Paris.

Di antara tradisi menjaga dan memajukan keilmuan adalah dengan cara menulis. Tidaklah ada sebuah pedoman jika bukan karena tulisan. Tidaklah ada suri tauladan jika bukan karena tulisan. Dari mana kita tahu kalam Ilahi jika bukan dari tulisan? Dari mana kita tahu sosok teladan jika bukan dari sejarah yang mengabarkan? Sebuah peradaban pun tak akan hadir tanpa adanya tulisan. Tradisi tulis-menulis sangat berperan penting dalam setiap lini kehidupan. Oleh sebab itu ia tak boleh hilang. Karena banyak tatanan-tatanan yang musnah karena tak menjaga budaya tulis menulis dengan baik.

Saya menyadari sudah seharusnya sebagai pemuda kita menjaga dan meneruskan tradisi ini. Saya pun mengakui kalau ilmu dan wawasan saya belum bisa menyeimbangi beratnya sebutir pasir di tepi laut. Jauh dari sempurna dan masih harus terus berbenah. Saya pernah mendengar sebuah quote “penulis yang baik adalah pembaca yang rakus”. Awalnya saya berpikir untuk tidak menulis lagi sebelum saya benar-benar jadi seorang kutu buku yang tamak membaca. Namun saya kembali merenung, mau sampai kapan saya harus menunggu waktu yang tepat? Bukan-kah jika saya terus belajar menulis akan timbul semangat untuk membaca? Bukan-kah saya akan terdorong untuk menyampaikan yang belum pernah saya sampaikan?  Dan bukan-kah hal yang tak pernah kita tau dapat digali dari membaca?. Akhirnya, dari semangat dan doa orang tua setiap menelepon “Ya… Bapak dan Mamak doakan semoga dimudahkan Allah dalam membuat karya tulisnya… “. Dari semangat guru-guru yang meskipun sebenarnya mereka pantas beragumen kalau mereka sudah tidak sempat menulis karena banyak kesibukan yang meski diurus, anak, istri, dan profesi. Namun mereka tak membiarkan tinta pena mereka kering. Menulis tanpa mencari-cari dalih bahwa mereka sudah terlalu repot. Dari sosok guru yang masih sempat menulis walau jadwal kajiannya padat. Dari sosok guru yang konsisten menulis walau urusan pesantren banyak yang ia pikul. Dari sosok guru yang gaya menonton tv-nya sambil nulis di laptop. Dari guru yang selalu tak pernah bosan menanyakan kabar tulisanku. Dan tak lupa dari seorang sahabat yang tak pernah putus asa untuk mengajak berkarya membangun ummat dengan tinta. Yang selalu menceritakan hal-hal hebat dari sejarah yang pernah dibacanya. Masya Allah… Belum lagi ketika membaca biografi ulama-ulama kuli tinta terdahulu. Tentulah kita akan merasa selama ini hidup kita hanya menumpang nama saja di bumi. Belum bisa berkontribusi secara maksimal pada sesama.

Di masyarakat sendiri kita bisa melihat, banyak orang hidup seakan mati. Namun tak sedikit orang yang tak lagi tinggal di dunia tetapi namanya sering disebut dan didoakan. Yang membedakannya adalah karya dan perannya di masyarakat. Sejarah-pun hanya menulis orang-orang yang mepunyai peran hebat. Yang hidup biasa-biasa saja maka akan tereleminasi dari list tinta merah. Tulisan ini sebenarnya adalah self-reminder bagi saya. Pengingat di saat semangat menulis mulai menipis. Akan tetapi saya akan sangat senang jika nantinya ada sedikit manfaat yang bisa digali di sini. Mari sama-sama menjaga dan membangun tradisi islam ini. Semoga kelak ketika kita tiada, nama kita tetap disebut dalam do’a generasi-generasi yang kita tinggalkan. Semoga langkah-langkah kita tetap memberi faedah walau kita telah meninggalkan dunia. Semoga kita tetap hidup walau tak lagi bernafas seperti biasa. Semoga kita tetap menginspirasi walau tak berpijak diatas bumi. Semoga tulisan-tulisan kecil kita bisa dijadikan sebagai tabungan di alam barzah. Dan terakhir, tak ada waktu paling tepat  untuk memulai kebaikan selain sekarang. Selalu bisikkan dalam hati “semoga namaku tak berhenti hanya di nisan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *