STIT Ar-Raudlatul Hasanah Melaksanakan Diskusi Ilmiah Internasional

(Raudhah), 20-21 Februari 2018. Dalam rangka peningkatan dan pengembangan kualitas SDM, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Ar-Raudlatul Hasanah Medan melaksanakan International Intellectual Discourse bertajuk “Worldview dan Epistemologi Islam serta Tantangan Sekularisasi dan Liberalisasi”. Tampil sebagai pembicara dalam kegiatan ilmiah ini Prof. Dr. Wan Mohd Wan Daud (Pendiri dan Direktur Center for Sdvanced Studies on Islam, Science and Civilisation “CASIS” Universiti Teknologi Malaysia), Dr. Adian Husaini, MA (Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations “INSISTS” Jakarta), dan Dr. Muhammad Arifin Ismail, MA (Pendiri dan Direktur Center for Institute of Islamic Thought and Information for Dakwah “ISTAID Center”).

Dalam sambutan pembukanya, Drs. H. M. Ilyas Tarigan mengatakan ”Kita betul-betul bersyukur hari ini dapat bersama Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, Dr. Adian Husaini, MA, dan Dr. Muhammad Arifin Ismail, MA di mana semuanya memiliki waktu yang terbatas dikarenakan jadwal yang padat tapi masih menyempatkan waktunya untuk bersilaturrahim dan berbagi ilmu.” Dr. Muhammad Arifin Ismail, MA selaku moderator bagi Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud menyebutkan bahwa para pakar worldview (pandangan hidup) Islam yang dihadirkan ke Medan bertujuan untuk menjadikan Medan basis pusat kajian peradaban Islam di wilayah barat Indonesia sebagai tanggungjawab terhadap kemajuan pendidikan dan peradaban Islam. Lebih lanjut Musyrif Badan Wakaf Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah ini juga menyebutkan bahwa Ar-Raudlatul Hasanah dipilih sebagai pusat kegiatan ini dikarenakan statusnya yang merupakan wakaf umat Islam dan bukan milik pribadi. Maka hal ini dimaknai sebagai tanggungjawab besar pondok yang harus dilaksanakan. “Kita jangan hanya fokus mempersiapkan generasi terbaik tetapi di sisi lain kita lupa memfollow up kebaikan untuk bangsa ini, minimal kita pegang Sumut untuk mengembangkan pendidikan Islam, dan mempersiapkan kader-kader pemikir Islam”, ujarnya.

Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari dari tangggal 20 sampai dengan 21 Februari 2018, dilaksanakan di Balai Pelatihan Kesehatan Sumatera Utara yang tidak jauh dari kampus Ar-Raudlatul Hasanah, dan diikuti oleh Pengurus Badan Wakaf Pesantren, Pengurus dan dosen STIT RH, dosen utusan perguruan tinggi di Medan, serta beberapa orang partisan mandiri dari pulau Jawa. Diskusi ilmiah ini merupakan lanjutan dari seminar sebelumnya dengan pembicara yang sama pada tanggal 28 Desember 2017.

Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud pada pembicaraannya di sesi pertama menyebutkan beberapa poin-poin penting, antara lain:

• Saya tidak suka diundang untuk hanya menyampaikan sesuatu selanjutnya pulang, tapi harus terus berkelanjutan, paling tidak 3 kali setahun terjadwal dengan baik, duduk 2-3 hari untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Maka saya menganggap Medan penting. Prinsipnya Kita hanya menekankan apa yang telah kita ketahui selama ini melalui Islam.

• Kita bukan hanya sekedar akan belajar bagaimana membentuk manusia yang baik saja, tapi lebih dari itu, yaitu membentuk manusia yang berperadaban dalam segala bidang, jadi bukan satu karya kecil. Ajaran Islam sejak awal bukan teoritical tapi practical, yang telah dibuktikan dengan sejarah. Inilah kenapa kami menggunakan pemikiran Prof. Naquib Al-Attas”. Ia bukan sosok pemikir besar yang lupa tradisi, tapi ia juga giat menggali dan belajar kepada ulama Islam nusantara. Ia memulai ISTAC pada malam Isra’ Mir’raj. Ia fokus pada aspek-aspek ilmu dalam jiwa dan memadukannya dengan ilmu untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

• Buku ilmiah tidak menjadi karya yang agung bila tidak membicarakan hal-hal yang tinggi dengan cara yang tinggi pula. Perpecahan, kejahilan, dan kemiskinan adalah 3 hal penghalang kemajuan. Semua ini punya induk masing-masing, induk segala problem besar ini bukan kejahilan dalam konteks yang sederhana, tetapi ia terletak pada kekeliruan dan kesalah pahaman dalam berilmu dan terhadap ilmu (confussion of knowledge), yang pada akhirnya akan melahirkan pemimpin yang ‘lost of adab’.

• Di tingkat worldview (hukum akhlak, adab, dan syariah) kita punya potensi mempersatukan umat, tidak demikian pada fiqh, politik, dan sebagainya. Dalam program ini, kita menjadikan akidah sebagai induk dan landasan Islam worldview yang disertai dengan sains.

• David Naugle—seorang guru besar filsafat di Dallas Baptist University—menulis buku besar berjudul ‘Worldview’ (2002), di dalamnya ia mengutip pernyataan seorang penulis Inggris bernama Gilbert K. Chesterton (1936); bahwa yang paling penting dari manusia itu adalah bagaimana cara pandangnya terhadap dunia.

• Ziya Gökalp (1924)—bapak sosiologi Turki—dalam karyanya ‘The Principle of Turkism’ menyebutkan; “walaupun sangat penting bagi pemimpin militer mengetahui berapa banyak pasukan dan senjata yang dimilikinya, akan tetapi lebih penting mengetahui falsafah musuh yang akan dihadapi”.

• Pandangan kita tentang segala sesuatu harus didasari dengan kebenaran.

• Pengintegrasian science dengan Islam bermula dari worldview, skema epistimologi harus bersifat komprehensif. Islam tidak sebatas ilmu, ia adalah adab dan peradaban.

• Bahasa adalah sesuatu yang penting, bahasa adalah kunci pengetahuan. Alquran sendiri mengislamisasikan makna dalam kata-kata Arab. 5 awal surat Al-Alaq sangat jelas bagaimana Allah mengislamisasikan bahasa Arab. Pada akhirnya kata fiqh mengalami penyempitan makna yang hanya terbatas pada fiqh amaly.

• Worldview Islam dinaungi oleh tiga asas; 1. Rasio yang diperoleh melalui indera, 2. empirisme/pengalaman, dan 3. Al-khabar as-shodiq/Wahyu. Di sinilah peran para ulama terdahulu dalam melakukan komparasi agama, mereka mengkaji pemikiran-pemikiran selain Islam, ada aspek yang jelas berbeda (antara kita dengan non muslim), namun ada juga aspek yang sama. Jadi kita harus bisa bekerjasama dalam aspek yang sama tadi tapi tetap berpegang teguh kepada aspek yang berbeda.

• Worldview berbeda dengan paradigm; paradigm berasas pada hal yang sifat berubah-ubah, bagi kita Islam bukan paradigma. Worldview kita bukan paradigma tapi worldview barat adalah paradigma.

• Hal yang mengindikasikan Islam melampaui barat:

1) Islam (melalui Al-quran) menimbulkan keraguan terhadap asas keyakinan agama lain.

2) Tidak peradaban selain Islam yang dapat dengan cepatnya berkembang dan bertahan lebih lama di tanah eropa.

3) Eropa mempelajari dan memahami pemikiran nenek moyang mereka (Yunani) melalui sarjana-sarjana Muslim. Islam menjaga pemikiran yang dihasilkan oleh barat seperti Aristoteles, ketika mereka hendak kembali kepada Aristoteles mereka merujuk melalui kajian pemikir Islam.

4) Semakin banyak orang barat menjadi muslim dari pada sebaiknya. *(HSM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *