Meneladani Ulama Sejati

Ketika Allah menyatakan bahwa hamba-Nya yang sejati adalah ulama yang punya kasy-yah (rasa takut) kepada-Nya adalah para ulama (Qs. Fathir: 28), maka yang banyak ilmu tapi langgar aturan Allah bukan ulama.

Karena khasy-yah itulah yang menghalangi seseorang dari perbuatan dosa, maksiat atau durhaka kepada Allah, kata seorang ulama Tabi`in, Sa`id ibn Jubair (Lihat, al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H/1373 M), Tafsir al-Qur’an al-`Azhim (Riyadh: Dar as-Salam, 1424 H/2004 M), 2339).

Tapi, apakah hanya itu ciri ulama sejati? Ternyata tidak! Karena agar mencapai khasy-yah itu ada banyak syarat lain. Nah, diantara syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

Pertama, keilmuan. Artinya, keilmuannya diakui oleh ulama lain, baik berupa pandangan, penilaian, pengakuan, maupun pujian mereka terhadap. Ini, misalnya, disampaikan oleh lmam as-Syathibi (w. 790 H/1388 M) dalam kitab al-l`tisham yang terkenal itu.

Kedua, dikenal luas sebagai orang yang saleh, berkata benar, bisa dipercaya, dan dapat menjadi panutan umat dan penyuluh bagi masyarakat. Hal ini dikemukakan oleh lmam Ibn Taimiyyah (w. 728 H/1328 M) dalam Majmu` al-Fatawa yang dahsyat itu.

Ketiga, memiliki kelebihan atau keunggulan dibanding orang-orang sekelasnya, baik secara mental, moral, spiritual maupun kecerdasan sosial dan lain-lain. Ini pun dapat diketahui atau mudah terlihat oleh orang yang mempunyai kualitas tersebut, seperti kata ahli hikmah: لا يعرف الفضل إلا ذو فضل (Tidak ada yang dapat mengetahui keutamaan kecuali orang yang memiliki keutamaan itu pula). (Lihat, Dr. Syamsuddin Arif, “Intelektual dan Ulama Vis-a-Vis Penguasa”, dalam Islamia, Vol Xl, No 1, Februari (2017): 14-15).

Dari ulasan sederhana di atas dapatlah kita simpulkan bahwa ulam sejati itu adalah yang memiliki kedalaman ilmu, keluasan wawasan, sekaligus kesalehan. Maka, hal-hal ini yang patut diteladani. Karena ulama sejati adalah “suluh” bagi umatnya, “lentera” bagi pengikutnya. Dengan demikian umat akan terus berada dalam koridor ilahi, karena mereka dibimbing oleh pewaris para nabi.

Semoga di tengah-tengah kehidupan, lingkungan dan masyarakat kita banyak lahir ulama-ulama sejati dan patut kita teladani. Wallahu A`lamu bis-Shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *