Buku Sebagai Warisan; Catatan Membaca “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” (4)

Radinal Mukhtar Harahap

“the idea of culture itself originally emerged in connection with cultivation of learning through the written word…” — Dr. Guy Story Brown, Director of the Bureau of Educational and Cultural Affairs at the United States Information Agency

Tulisan ini masih melanjutkan pembicaraan mengenai buku berjudul “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” , yang dieditori oleh George N. Atiyeh. Kalimat bertenaga di atas adalah alinea ketiga dari pendahuluan George N. Atiyeh.

Apa arti kalimat di atas?

Google translate menerjemahkan demikian;

“Gagasan tentang budaya itu sendiri awalnya muncul sehubungan dengan budidaya pembelajaran melalui kata-kata tertulis ….”

Sungguh. Saya seperti menemukan pernyataan pendukung dari kalimat yang menimbulkan gairah membaca buku ini pertama kali. Kalimat yang saya kutip di catatan kedua dan ketiga serial membaca buku “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication”. Kalimat yang berbunyi; A book is obviously not simply a physical thing. It is a living entity, yang pada akhirnya dengan sesuka hati saya terjemahkan menjadi;

Buku, bukanlah sekedar benda mati. Ia adalah wujud yang menghidupkan.

Empat hari yang lalu – 09 Februari 2018 – Guru saya, Ustadz Andi Wahyudi baru saja menerbitkan tiga bukunya sekaligus. Judul dan bentuk bukunya, saya jadikan foto sampul catatan ini. Beliau memang sangat kental corak tulisannya dengan dunia filsafat Islam dan tasawuf. Tak mengherankan bila -bahkan di judul-judul buku beliau sebelumnya- pembahasannya sekitar dunia tersebut. Terlepas dari situ, pergaulan dengan beliau dan pembicaraan tentang buku-buku beliau, juga sangat mendukung pernyataan di atas;

Buku, bukanlah sekedar benda mati. Ia adalah wujud yang menghidupkan.

Saban waktu, di selang-selang pembicaraan kami, dengan mantap beliau menasihati saya;

“Kalaulah kita menjadi guru dan akademisi yang sekedar mengajar dan menularkan ilmu lewat lisan, begitu banyak yang bisa melakukan. Namun ketika kita menuliskannya dalam bentuk buku, tidak akan banyak yang berjuang melaksanakannya. Bahkan jika sebuah tulisan yang kita goreskan, tidak sempat untuk diterbitkan, akan ada momen dimana tulisan itu akan menjadi sesuatu yang berharga.”

Menarik, ya?

Maka, teringat perkataan yang selalu disebutkan teman kuliah saya, Pak Irham Lubis AL Irsaly ketika kami membicarakan buku;

Walaupun sebuah buku, tidak bisa saya nikmati sekarang. Mudah-mudahan, anak cucu saya nanti yang akan membacanya.

Itu mengapa saya beri judul tulisan ini Buku Sebagai Warisan karena ia begitu berharga-harus senantiasa kita bicarakan-dan mudah-mudahan akan menjadi titik awal kebudayaan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *