lmam al-Ghazali dan Urgensi Klasifikasi llmu

Memahami klasifikasi ilmu dalam lslam harus benar dan tepat. Jika tidak, akan terjadi kekeliruan dan bahkan kesalahan yang fatal. Misalnya, setiap kali disebut fardhu kifayah yang terlintas dalam pikiran banyak orang adalah `mayit alias jenazah`. Padahal tidak demikian yang benar. Karena pengurusan jenazah tidak termasuk dalam pembahasan khusus bab ilmu, tetapi bab jana’iz dalam fiqih. Meskipun tidak salah seutuhnya. Di sinilah urgensi mendudukkan konsepsi ilmu dalam lslam.

Ulama pertama yang telah melakukan klasifikasi ilmu adalah Hujjatu’l-lslam lmam Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H). Menurut lmam al-Ghazali (450-505 H), klasifikasi ilmu ada dua: fardhu `ain dan fardhu kifayah. Kemudian ada ulama lain, yaitu Shadr al-Din al-Razi yang dikenal dengan Mulla Shadra, yang membagi ilmu menjadi dua juga: `ulum dunyawiyyah (ilmu-ilmu duniawi) dan `ulum ukhrawiyyah (ilmu-ilmu akhirat). (Lebih luas, lihat Syed Muhammad Dawilah al-Edrus, lslamic Epistemology: An Introduction to the Theory of Knowledge in al-Qur’an (Kuala Lumpur: The Islamic Academy, Cambridge, Universiti Sains Malaysia, 1992), hlm. 106).

Mengenai ilmu fardu `ain, kata lmam al-Ghazali, para ulama berbeda pandangan. Menurut para Mutakallimun yang masuk dalam kategori ini llmu Kalam atau llmu Tauhid: ilmu mengenal zat Allah dan sifat-sifat-Nya.

Menurut Fuqaha’ adalah llmu Fiqih: ilmu untuk mengenal ibadah, halal-haram, muamalat yang haram dan yang halal.

Menurut para Mufassirun dan Muhadditsun adalah llmu Kitab (Al-Quran) dan Sunnah: dengan keduanya ilmu-ilmu lain dapat digapai.

Menurut para Sufi adalah llmu Tasawuf: ilmu mengenal diri. Bagaiman kondisi spiritual dan maqam seorang hamba di hadapan Tuhannya.

Ulama lain berpandangam bahwa ilmu fardhu `ain adalah: ilmu ikhlas dan aib diri dan kemampuan membedakan antara bisikan malaikat dan bisikan (godaan) setan.

Sementara yang lain berpandangan bahwa yang wajib diketahui adalah: ilmu batin. Maka, ilmu ini hanya dapat dilakoni oleh orang-orang khusus, bukun dilakoni oleh sembarang orang.

Dan menurut Abu Thalib al-Makki ilmu yang wajib dipelajari adalah: ilmu yang dicakup dalam hadits terkenal mengenak “bangunan lslam”, yaitu:

(بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله (متفق عليه)

sampai akhir hadits.

Alasannya: karena yang wajib adalah yang lima itu (rukun lslam). Maka ilmu untuk mengamalkannya wajib diketahui. (Lihat, lmam al-Ghazali, lhya’ `Ulum al-Din (Kairo: Maktabah Mishr, 1434 H2013 M): 1/29-30).

Sementara tentang ilmu fardh kifayah kata lmam al-Ghazali perlu dijelaskan dahulu. Jika ditilik dari tujuannya, maka dibagi menjadi syar`i dan tidak syar`i.

Yang syar`i yang diambil dari para nabi, semisal: Hisab, kedokteran, ilmu bahasa. Dan yang tidak syar`i terbagi menjadi tiga: mahmud (terpuji), madzmum (tercela), dan mubah (boleh).

Yang masuk kategori mahmud adalah yang berkaitan dengan agama, seperti: Kedokteran dan Hisab. Ini pun terbagi lagi: apakah faridhah (harus) atau ghair faridhah (tidak harus/tidak wajib). Yang masuk fardhu kifayah adalah yang berhubungan dengan tegaknya agama, misal: Kedokteran, Hisab, dan yang lainnya.

Yang masuk fardhu kifayah juga adalah: ilmu tentang pertanian/perkebunan, ilmu tenun, politik, ilmu tentang bekam, ilmu jahit.

Dan yang masuk kategori madzmum (tercela) misalnya: ilmu sihir, jimat/penangkal bala, ilmu-ilmu menyimpang, dan lainnya. Dan yang mubah misalnya adalah ilmu syair, yang tidak menyimpang.

Nah, ilmu dalam bingkai syariat inilah yang menjadi fokus ulasan lmam al-Ghazali, yang beliau bagi menjadi beberap kategori:

Pertama, Ushul, ada empat: Kitabullah (Al-Quran), Sunnah Rasulillah Saw., Ijma` Ummat, dan Atsar para Sahabat.

Kedua, Furu` (cabang), yaitu dibagi dua: (1) yang berkenaan dengan maslahat dunia, ini ada dalam: Fiqih. Maka, para Fuqaha’ adalah ulama dunia; (2) yang berkenaan dengan maslahat Akhirat. Ini ada dalam ilmu keadaan hati dan akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah dan apa yang diridhai Allah, yang makruh (tak disukai Allah).

Ketiga, Muqaddimat, yakni ilmu alamat, semisal: ilmu bahasa (Lughah) dan Nahwu. Keduanya adalah alat untuk ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasulillah. Dan ilmu bahasa dan Nahwu itu sendiri bukan ilmu syar`i, tetapi mesti dipejari karena perintah syariah.

Keempat, Mutammimat, yaitu ilmu Al-Quran. Dan ini bertalian dengan hal yang berkaitan dengan lafadz, seperti: Qira’at dan makharijul huruf. Dan, bertalian dengan ilmu tentang makna Al-Quran, yakni: ilmu Tafsir.

Selain itu, ada ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum Al-Quran, semisal: nasikh-mansukh, `am-khash, nash-zhahir. Ada pula ilmu Ushul Fiqh yang berkaitan pula dengan Sunnah.

Sedangkan yang berkaitan dengan Mutammimat dalam Atsar dan Khabar adalah ilmu-ilmu rijal hadits, nama-nama mereka, masab mereka; nama para Sahabat dan sifat mereka; ilmu `adalah para perawi; ilmu keadaan keadaan mereka, untuk membedakan mana yang lemah dan kuat; ilmu tentang usia para perawi, untuk bedakan mana mursal dan musnad, dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan itu.

Itu semua, kata lmam al-Ghazali, adalah ilmu-ilmu syar`i. Seluruhnya mahmudah (terpuji), bahkan masuk min furudh al-kifayat (ilmu-ilmu fardhu kifayah). (Lihat, lmam al-Ghazali, Ihya’ `Ulum al-Din: 1/33-34. Lihat juga, Osman Bakar, Classification of Knowledge in lslam (Kuala Lumpur-Malaysia: Institute for Policy Research, 1992), hlm. 206-209).

Dari penjelasan di atas menjadi terang-benderang bagi kita tentang urgensi klasifikasi ilmu dalam lslam. Sebagai pelopor klasifikasi ilmu fardhu `ain dan fardhu kifayah, tentu pandangan ini amat penting untuk disebarkan. Sehingga tidak ada kesalahan di tengah-tengah umat dalam memilah dan memilih ilmu yang ingin dipelajari, dikuasai, dan diamalkan. Wallahu A`lam bis-Shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *