Ukhuwah Insaniyah

Menanamkan rasa kemanusian pada setiap diri individu haruslah dimulai dari semenjak usia dini. Sebuah perasaan dimana ia melihat bahwa dirinya adalah sama seperti orang lain. Bahwa dirinya memiliki kewajiban dan hak yang sama dengan kewajiban dan hak orang lain. Perasaan dalam diri bahwa dirinya tidak lebih mulia atau lebih utama dari orang lain, tidak melebih-lebihkan suku bangsa ataupun warna kulit dan sebagainya. Tapi yang tertanam dalam diri adalah bahwa manusia semua sama karena tercipta dari unsur yang sama serta memiliki kemulian yang sama pula. Seperti yang disinyalir dalam firman Allah (al-Isra’: 70):

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Ketika manusia menyadari bahwa dirinya adalah sama dengan orang lain, maka ketika itu ia pun akan dapat mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri. Kecintaan itu akan timbul jika seseorang merasa bahwa orang lain adalah sama seperti dirinya. Sebaliknya jika seseorang merasa bahwa dirinya lebih dari orang lain, maka mustahil ia akan dapat mencintai orang lain. Perasaan kemanusian yang ada pada diri manusialah yang kemudian membawa ia untuk mencintai saudaranya. Rasulullah saw pernah bersabda:”Tidak dinyatakan seseorang diantara kamu beriman hingga ia mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri”. (H. R Bukhari dan Muslim)

Islam memberikan ajaran bahwa berbuat baik haruslah dilakukan kepada siapapun, tidak melihat latar belakang suku, bangsa dan agama. Tidak melihat apakah berbuat baik harus kepada orang yang baik atau orang yang berbuat buruk. Hal demikian karena manusia memiliki kemulian dan kemuliannya sebagai manusia akan semakin bertambah dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan.

Dalam ajarannya Islam juga memberikan informasi bahwa kedudukan orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat keburukan tidaklah sama. Alquran mensinyalir hal ini dalam surat al-Hujarat: 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Islam mengajarkan bahwa hak-hak manusia haruslah selalu dihormati karena dengan menghormatinya berarti juga memuliakan manusia. Menurut Muhammad Abdullah Darraz bahwa kemulian manusia itu terbagai kedalam tiga bentuk; yang pertama yaitu bahwa kemulian adalah ‘ishmah (menjaga diri dari kesalahan) dan perlindungan, kekuatan, kepemimpinan serta kepemilikan. Yang kedua yaitu kemulian yang bersumber dari akidah dan yang ketiga adalah kemulian yang diperoleh dari amal perbuatan. Sebuah kemulian tidaklah dapat diraih dengan cara-cara yang tidak baik, seperti menghina orang lain dan merendahkan kaum, suku atau bangsa lain. Sejatinya kemulian manusia itu telah terlahirkan bersamaan dengan kelahiran manusia itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *