Buku Sebagai Warisan (2); Catatan Membaca “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” (5)

Radinal Mukhtar Harahap

Zaman ketika komputer, laptop dan segala jenis gadget belum ada, buku sudah menjadi warisan para ulama kita. Setidaknya itulah yang berhasil saya ungkapkan ketika George N. Atiyeh melanjutkan pembahasannya mengenai buku-buku dalam dunia Islam yang terangkum di kumpulan hasil konferensi mengenai buku, Washington DC, 8-9 November 1989.

Pustakawan asal Lebanon itu menulis dengan yakin;

Scarcely has the literary life of any other culture played such a role as in Islam

Jika dalam tulisan sebelumnya saya belajar dari Ustadz Andi Wahyudi, maka dalam tulisan ini -dengan tema yang sama tetapi penekanan yang berbeda tentang buku sebagai warisan, saya belajar dari Ustadz Ahmad Fauzi Ilyas yang -saat ini- sedang menyelesaikan karya hebatnya mengenai warisan intelektual ulama nusantara.

Kita bicarakan dalam tulisan lain mengenai karya beliau yang sedang dikerjakannya itu, minimal sampai karya itu benar-benar terbit untuk bersama-sama kita beli dan nikmati, nantinya, hehehe. Saya ceritakan terlebih dahulu buku beliau sebelumnya; yang berjudul Syaikh Muhammad Zein; Sebuah Biografi dan Kontribusi Pendidikan Islam di Wilayah Batu Bara (Usuluddin-Fiqih-Tasawuf).

Alhamdulillah, saya, bolehlah dikatakan menjadi golongan orang yang pertama-pertama menikmati karya yang gambarannya ada di samping. Itu karena, sebelum buku itu naik cetak, saya sempat kebagian jatah diajak berdiskusi dengan beliau. Buku itu -sejatinya- menceritakan mengenai keluarga beliau juga, kalau tak salah onyang -yang dapatlah kiranya diartikan sebagai leluhurnya seperti kakek atau buyut. Namun, pengaruh Syaikh Muhammad Zein yang begitu besar dalam lingkup usuluddin, fiqih dan tasawuf di daerah Batu Bara, bahkan hingga kini, tidaklah dapat dikesampingkan hanya karena beliau -ustadz Ahmad Fauzi itu- menuliskan perihal cerita garis keturunannya ke atas sendiri. Tentulah sisi objektivitasnya sangat dijaga oleh lulusan Al-Azhar Kairo dan Unsiq Wonosobo itu. Namun, pelajaran penting yang terkait dengan tulisan ini adalah -jikalah bisa dikatakan wilayah Batu Bara bukanlah wilayah yang lebih modern ketimbang Medan bahkan Jakarta, Syaikh Muhammad Zein yang dituliskan ustadz Ahmad Fauzi itu bahkan telah meninggalkan manuskrip-manuskrip dan buku-buku yang dapat dinikmati oleh generasinya di masa mendatang.

Pertanyaannya, bagaimana dengan kita? Apakah kita telah menyiapkan warisan berupa buku-buku untuk keluarga dan anak cucu kita kelak?

Kalau di catatan sebelumnya, saya mengutip perkataan Pak Irham Lubis AL Irsaly mengenai buku sebagai warisan yang akan dibaca anak dan generasinya, setelahnya, bolehlah dalam catatan ini saya menambahkan bahwa;

Sudahkah kita secara khusus meninggalkan nasehat-nasehat untuk keluarga kita sendiri dalam bentuk tulisan?

Barangkali, kita bisa belajar dari Imam al-Ghazali yang menuliskan buku berjudul Ayyuhal Walad. Meskipun buku tersebut tertuju pada muridnya yang bertanya; tertuju bukan kepada kita yang ada di masa bertaburnya alat-alat untuk menulis; tertuju bukan pada anak-anaknya sebagaimana makna leksikal walad dalam buku tersebut; nyatanya, buku itu masih terus dibaca oleh generasi masa kini yang memang getol menikmati warisan-warisan intelektual ulama-ulama terdahulu.

Maka, sejelek apapunlah yang kita pikir mengenai tulisan kita sendiri, barangkali, mulailah untuk kita pikirkan; warisan intelektual apa yang hendak kita wariskan untuk anak-cucu kelak?

Menulislah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *