Membaca sebagai Jendela llmu

✒Qosim Nursheha Dzulhadi

Membaca itu, bukan “hobi”, kata Dr. Raghib al-Sirjani dalam al-Qira’ah Minhaj al-Hayah, melainkan way of life. Karena itu membaca harus dilakukan dengan serius dan memiliki tujuan yang jelas. Tujuannya adalah: menggapai ilmu. Ilmu itu kemudian harus masuk ke relung qalbu, menjadi nur (cahaya) dan lahirkan rasa takut.

Para ulama kita yang bermartabat, seperti: lmam Abu Hanifah, lmam Malik, lmam al-Syafi`i, lmam Ahmad ibn Hanbal, lmam al-Bukhari, lmam Muslim, lmam Fakhr al-Din al-Razi, lmam Abu Hamid al-Ghazali, lmam al-Nawawi, lmam Ibn Taimiyyah, dan yang lainnya adalah sekian tokoh dari ulama klasik yang merasakan lezatnya membaca sebagai perintah Allah. Mereka tak menganggap membaca sebagai hobi. Maka, saksikanlah karya mereka! Mendunia dan melegenda.

Ulama-ulama modern dan kontemporer semisal: Syekh Muhammad al-Ghazali, Sayyid Qutb, Syekh `Abdul Aziz ibn Baz, Syekh Shalih ibn al-`Utsaimin, Syekh al-Sya`rawi, Syekh Mahmud Syaltut, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Syekh `Abd al-Fattah Abu Ghuddah, Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Syekh Wahbah az-Zuhaili, dan banyak lagi adalah contoh ulama hebat masa kini yang paham kaitan erat antara membaca dan ilmu. Tanpa membaca maka ilmu tak mungkin diraih.

Di lndonesia kita pun mengenal ulama-ulama hebat yang pasti `kuat` ruh membacanya. Sebut saja, misalnya, Syekh Nur al-Din al-Raniri, Syekh `Abd al-Rauf al-Singkili, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh lmam Nawawi al-Jawi al-Banteni, Syekh KH. Ahmad Dahlan, Syekh KH. Hasyim Asyari, Syekh Mahfudz al-Termasi, Syekh Raja Ali Haji, KH. Soleh Darat, sampai Buya Hamka. Mereka adalah contoh ulama-ulama yang mampu “membumikan” makna lqra’ bismrabbika al-ladzi khalaqa. Pembumian itu hasilnya adalah peradaban buku mereka yang harumkan nama bangsa.

Sekarang, generasi zaman now harus mampu up date status ghirah mereka terhadap bacaan mereka. Obsesi qira’ah-nya harus menjulang tinggai. “Seluruh buku yang ada di Hijaz dan Syam telah aku baca”, kata lmam Ibn al-Jauzi menuturkan. “Namun ini butuh kesabaran dan ketelatenan”, kata Syekh Abu Ghuddah dalam Shafahat min Shabr al-`Ulama’.

Membaca buku memang butuh sedikit “pemaksaan”, agar naik derajatnya jadi kebutuhan hingga kewajiban. Jangan lagi ada yang menyebut sebatas hobi, karena tak akan bernilai tinggi. Dengan begitu tidak akan lagi ada waktu yang terbuang sia-sia. Inilah semangat “investasi waktu” para ulama hebat itu, kata Syekh Abu Ghuddah dalam Qimat al-Zaman `inda al-`Ulama’. Harus meluangkan waktu untuk membaca, karena menanti waktu luang tidak akan pernah ada. Hanya orang jahil yang merasa waktunya berlebih dan mubazir.

Untuk itu, slogan cinta ilmu: bahwa ilmu adalah cahaya, mari bangun peradaban dengan ilmu, dan lain sebagainya, tidak akan pernah terwujud jika dasarnya `malas` membaca.

Di dalam Al-Quran banyak perintah ibadah: Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji. Lain lagi ada perintah-perintah lainnya: jihad, infaq, sedekah, menikahkan anak, hormat kepada orang tua, dan banyak lagi. Tapi wahyu perdana adalah lqra’, bukan yang lainnya. Di sini mungkin agak sedikit terang mengapa wahyu itu turun pertama kepada Nabi kita. Makin terang lagi ketika beliau bersabda Thalabu’l-`ilmi faridhatun `ala kulli muslimin (HR. Al-Baihaqi dan al-Thabrani). Namun caranya, kata Allah, adalah: `Iqra’`, bacalah!

Maka, siapa saja yang malas membaca sama dengan tak cinta ilmu dan tak akan peroleh ilmu. Lebih dari itu, tanpa sadar dia sedang menolak wahyu. Wallahu A`lamu bis-Shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *