Agama; Pedoman Hidup Manusia

Manusia selalu butuh agama. Kebutuhan manusia kepada agama tidak dapat ditawar-tawar, karena ia merupakan kebutuhan asasi yang terkait langsung dengan inti kehidupan manusia serta rahasia keberadaannya. Secara bahasa, kata agama yang diartikan dari kata bahasa Arab yaitu dyn, memiliki beberapa macam pengertian, yaitu: balasan (al-jaza’), kekuasaan dan otoritas (al-hukmu wa sulthan), tunduk dan taat (al-khudhu’ wa tha’ah), kebiasaan (al-‘adah) serta apa yang diyakini, dipeluk dan disembah. Semua makna  ini dapat dimasukkan ke dalam pengertian agama, karena orang yang beragama niscaya segala ajaran-ajarannya dapat menjadi kebiasaan buat dirinya, ia pun taat kepada yang menciptakan agama, tunduk kepada otoritas-Nya dan akhirnya ia memohon ganjaran pahala dari-Nya.

Adapun menurut istilah, kata agama atau diyn seperti yang telah didefenisikan oleh para ulama yaitu: “sebuah ketentuan Tuhan yang menuntun orang-orang yang berakal sehat dengan pilihan mereka kepada kebaikan di dunia dan keberuntungan di akhirat”.

Agama sebagai ketentuan Tuhan memberikan makna bahwa agama selalu dinisbahkan kepada Allah swt. Agama tidaklah terlahir dari diri manusia, atau  hadir dari hasil kreativitas nalar manusia. Allah jugalah yang menurunkan agama serta mewahyukan ajaran-ajaran luhurnya kepada utusan-utusan-Nya. Agama yang terdiri dari akidah dan syariah ini haruslah diyakini dan dipratekkan dalam kehidupan manusia sehari-sehari.

Akidah dan syari’ah yang merupakan perintah serta larangan-larangan Allah hanya diperuntukkan bagi para mukallaf; yaitu mereka yang memiliki nalar bebas dan merdeka dari penghambaan kepada selain Allah swt. Agama tidak diperuntukkan bagi mereka yang memiliki nalar yang “sakit”, nalar yang menyimpang dan ekstrim. Nalar-nalar yang hanya akan menjadi virus yang berpotensi menggerogoti agama yang haq.

Sejatinya agama adalah bertujuan untuk memberikan penganutnya kehidupan yang damai, tenang, aman dan sentausa di kehidupan dunia serta kebahagian abadi di negeri akhirat kelak. Dari defenisi agama di atas setidaknya ada tiga hal yang penting untuk membedakan antara agama yang haq dan agama yang batil;

Pertama, bahwa dalam agama yang haq selalu menampilkan ajaran yang paling prinsipil yaitu ketuhanan, percaya kepada zat yang Maha gaib, zat yang tidak tampak dan spritualis. Hal ini memberikan arti bahwa pemahaman-pemahaman filsafat seperti komunisme, eksistensialisme dan lainnya tidak dapat dinyatakan sebagai agama karena pemahaman-pemahaman seperti ini tidak memberikan ruang bagi hal-hal yang gaib atau sesuatu yang bersifat metafisik. Dasar pemahaman-pemahaman filsafat ini hanyalah terfokus pada hal-hal yang dapat diindera. Sementara dalam agama, kepercayaan atau keyakinan akan adanya kekuatan metafisik yang tidak dapat diindera adalah merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat ditolak.

Kedua, adanya kepercayaan atau keyakinan bagi orang yang beragama akan hubungan yang terjalin antara dirinya dengan kekuatan yang gaib (metafisik).  Hal ini membuat dirinya memasrahkan diri dan berharap bahwa kekuatan tersebut akan dapat mewujudkan keinginan-keinginannya.

Yang ketiga, adanya usaha untuk memperkuat hubungannya dengan kekuatan gaib tersebut, dengan ketundukan dan kepatuhan kepadaNya.

Pentingnya Agama

Allah swt telah menganugerahkan manusia sesuatu yang begitu berarti baginya, yaitu akal. Anugerah inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kemudian Allah pun memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi khalifah di muka bumi-Nya dan memberikannya amanah untuk mengelola apa yang ada di bumi. Namun manusia-dengan ketentuan Allah-memiliki keterbatasan untuk melaksanakan tugas-tugas mulianya ini. Akal yang dimilikinya tidak mampu mengatasi dan menjangkau berbagai permasalahan yang ada, tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar hakekat dari wujudnya dan wujud alam semesta ini. Manusia masih harus mencari jawaban; dari manakah ia berasal? Ke manakah ia akan berakhir? Dan bagaimanakah ia melewati hal semua itu? Disinilah manusia membutuhkan agama.

Manusia bukan hanya memiliki akal, namun ia memiliki ruh dan perasaan. Tiga unsur inilah yang membentuk fitrah manusia yang sejatinya tidak terpuaskan hanya dengan mengandalkan ilmu. Manusia membutuhkan hal lain yang dapat memuaskan dahaga hatinya, yaitu keyakinan akan keberadaan Sang Pencipta, Allah swt. Keyakinan inilah yang membuat diri manusia menjadi tenang dan bahagia. Jauh dari rasa risau dan galau. Keyakinan itu terletak dan terpusat di dalam jiwa, terpatri di dalam hati sanubari manusia. Dan hal ini tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Fitrah yang diciptakan Allah swt ini, diisi dan dititipkan didalamnya rasa untuk mengenal-Nya. Keyakinan ini bukanlah sesuatu yang baru, tapi ia ada di setiap umat dan di setiap masa.

Meskipun akal manusia begitu cerdas, namun akal hanya mampu menangkap hal-hal yang dapat diindera. Gerak akal sangat begitu terbatas untuk mengetahui hakekat segala sesuatu yang-meskipun-ada pada ruang lingkupnya sendiri, apalagi untuk mengetahui sesuatu yang akan terjadi sesudahnya.

Jika demikian, maka manusia tidak dapat bersandar kepada akalnya, karena akal banyak menyimpan kekurangan-kekurangan, bahkan kadang cenderung menipu manusia, hingga manusiapun terperdaya dengan nalarnya sendiri. Disinilah agama hadir sebagai solusi untuk manusia. Agama adalah nutrisi untuk perkembangan akal yang dapat menunjukkannya kepada jalan kebaikan dan hidayah. Berkaiatan tentang hal ini, Syaikh Yusuf Qardhawi memberikan komentarnya sebagai berikut:”Sesungguhnya beriman kepada Allah bukanlah hanya tuntutan fitrah manusia, namun juga  ia merupakan tuntutan kebutuhan akal.

Di samping hal seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa kebutuhan manusia kepada agama karena agama merupakan nilai-nilai yang dapat mencerahan jiwa dan spritual manusia. Tatkala manusia dirundung masalah-masalah yang menghimpit dirinya dan menggoncang jiwanya, disaat itulah manusia harus kembali kepada agama. Hanya agamalah yang dapat memberikan kekuatan disaat manusia lemah, tidak berdaya dan putus asa. Memberikan kesabaran disaat manusia menghadapi kesedihan, kegundahan dan kesusahan.

Keyakinan manusia kepada Allah swt akan membuat jiwanya menjadi sehat dan stabil serta memberikannya kekuatan spritual, sehingga ia kan menghadapi apapun yang ada di dunia ini dengan penuh kegembiraan dan suka cita. Adapun orang-orang yang tidak beragama, tidak percaya akan adanya Allah, ketika mereka menghadapi kesulitan-kesulitan dalam kehidupan, mereka akan hidup penuh dengan kegelisahan, keresahan dan kebimbangan, hingga mereka menjadi prustasi dan strees. Bahkan tak jarang orang-orang yang mengalami hal-hal seperti ini mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri atau paling tidak, hidup dengan keadaan yang mengenaskan, hidup tapi seperti mati.

Selain untuk kebutuhan pribadi, agama juga merupakan kebutuhan masyarakat, karena hanya dengan agamalah sebuah masyarakat dapat hidup dengan stabil, saling menghargai dan berkembang dengan baik. Masyarakat membutuhkan nilai-nilai agama yang dapat memberikan dorongan atau motifasi bagi individu-individunya untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, mulia dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Agama juga mengajarkan setiap orang untuk dapat berbuat dalam batas-batasnya, sehingga dengan demikian ia tidak mencederai hak orang lain. Demikian juga bahwa agama selalu mengajarkan manusia agar tidak mementingkan syahwat pribadinya, untuk kepentingan-kepentingannya yang bersifat materialis.

Demikianlah bahwa fungsi agama (Islam) adalah seperti halnya jantung dalam kehidupan manusia. Jika jantung bertugas mengatur sirkulasi darah dalam tubuh manusia, maka agama  mengatur tata cara kehidupan manusia di muka bumi ini. Wallahu a’lam bis-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *