Buku Sebagai Warisan (3); Catatan Membaca “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” (6)

Radinal Mukhtar Harahap

Ini adalah seri keenam dari catatan saya membaca The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication”. Saya bersyukur masih bertahan untuk menelaah buku ini, meskipun, tidak konsisten setiap harinya. Maka, di bagian ketiga pembahasan mengenai Buku Sebagai Warisan, potongan kalimat ini adalah pendorongnya;

The Koran, referred to as the Book or al-Kitab, has a privileged place in Islam in that it is considered to be the word of God and in that it is inimitable (mu’jizah). It was only natural that The Book affect greatly the course of Arabic and Islamic culture. Under its stimulus, the various sciences (‘ulum, plural of ‘ilm) developed. Science, or learning (‘ilm), by which is meant the whole world of the intellect, engaged the interest of the Muslims more than anything else except perhaps politics during the golden age of Islam, that is, the early part of the Abbasid period.

Alquran adalah warisan terbesar yang dimiliki seorang muslim. Darinya berkembang setiap ilmu. Darinya semua pengetahuan berpijak. Ia adalah sumber yang inimitable, berwujud mu’jizat; terlepas dari kesalahan dan kelalaian. Bahkan ketika peradaban Islam disandarkan kepada apa yang pernah terjadi pada periode Abbasiyah; dengan semarak keilmuan yang begitu menggelora; ketahuilah bahwa semangat Alquran ada di sana.

Lantas, mengapa sekarang berbanding terbalik?

Karena Alquran tak lagi menjadi warisan. Ia acapkali hanya sekedar bahan bacaan.

Cermatilah bagaimana warisan, setidaknya, bisa menjadi renungan kita dalam memperlakukan Alquran -buku-
Warisan adalah harta. Ia bahkan sering diperebutkan karena begitu berharga. Bahkan, yang sering terjadi adalah mereka yang tidak berhak justru yang paling bersemangat membicarakannya.

Alquran, begitu pula buku-buku dalam Islam seharusnya, mestilah kita posisikan sebagai harta termahal yang pernah kita miliki. Alangkah bodohnya bila kemudian harta yang sangat sering kita memimpikannya itu, justru kita abaikan begitu saja menjadi sesuatu yang tidak bermakna dan tak berarti apa-apa.

Bak warisan juga, Alquran -dan buku-buku dalam Islam, seharusnya bukan warisan yang kita habiskan semau-mau kita; kita perlakukan semau-mau kita; kita pergunakan tanpa memikirkan untuk mengembangkannya. Ia adalah peninggalan dari orang yang kita kasihi dan tangisi kepergiannya. Adalah orang-orang yang hanya sekedar ‘mengambil untung dari kesedihan orang lainlah’ yang berpongah-pongah dengan warisan yang dimilikinya sedangkan ia sendiri tidak mampu untuk mempergunakan sebaik mungkin bahkan untuk hanya sekedar menjaga dan meneruskan keberadaan warisan tersebut.

Bahkan bila kemudian dalam kasus warisan yang sering terjadi adalah orang yang bukan ahli waris sering ‘mengompori’ ahli waris untuk membicarakan warisannya, itulah yang sering terjadi pada Alquran -dan juga buku-buku dalam Islam. Jangan heran bila Alquran senantiasa dibicarakan justru oleh orang-orang yang tahu makna Alquran meskipun tidak mempercayainya. Bagi mereka, Alquran memang harta yang ‘asyik’ untuk dibicarakan dan dapat mendatangkan keuntungan. Ahli waris yang tidak sadarlah yang kemudian marah-marah ketika yang membicarakan warisan itu yang justru mengambil keuntungannya. Alquran -dan buku-buku dalam Islam, saat ini mengalami hal itu, bukan?

Walakhir, bilamana kita mendapatkan orang yang memeroleh warisan, lantas kemudian abai dan tak mau tahu terhadap warisan yang diperolehnya, bahkan ketika warisan itu adalah sesuatu yang begitu berharga di dunia ini, apakah ungkapan yang paling cocok disematkan kepadanya?

Alangkah bodohnya memiliki warisan tetapi tidak mempergunakannya.

Maka, jangan bodoh!

Ops…

Tulisan ini benar-benar harus menjadi renungan bagi saya pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *