Hikmah di Balik Kisah Nabi Adam dan Iblis

Mendengar kisah pembangkangan iblis ketika disuruh bersujud (bukan sujud ibadah) kepada nabi Adam, setidaknya ada pelajaran penting yang bisa dipetik dari itu semua. Mengenai kisah tersebut Imam Fakhruddin Ar-Razy dalam kitab Tafsirnya Mafatih Al-Ghaib mengomentari:

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala menyebutkan kisah antara keduanya di dalam Al-Quran pada 7 tempat; 1) Dalam Surah Al-Baqarah 2) Surah Al-A’raf 3) Surah  Al-Hijr 4) Surah Bani Israil 5) Surah Al-Kahfi 6) Surah Thaha 7) pada Surah Shad”. Penyebutan kisah tersebut pada banyak tempat bukan kosong tanpa arti dan makna, melainkan dikarenakan adanya pelajaran penting dan berharga.

Kedua-duanya (Nabi Adam dan Iblis) sama-sama melakukan kesalahan, namun mereka memiliki nasib yang berbeda. Karena melanggar larangan Allah agar tidak mendekati pohon, nabi Adam mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Allah, kemudian Allah jadikan sebagai khalifah di muka bumi.

Iblis melanggar perintah Allah dengan tidak mau bersujud kepada Nabi Adam (bukan sujud ibadah, melainkan sujud penghormatan) namun dia dikutuk dan diusir Allah; menjadi makhluk terlaknat dan dijamin masuk neraka. Hal demikian bisa kita lihat pada firman Allah pada surah Al-A’raf ayat 11-18:

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ  قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

Dan sungguh, kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian kami berfirman kepada para malaikat, ‘bersujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Ia (iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud. (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika aku menyuruhmu?” (iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina”.

Kalau kita ingin sedikit bertanya, kenapa di antara keduanya yang sama-sama melakukan kesalahan memiliki nasib yang jauh berbeda? Iblis melakukan kesalahan karena kesombongan dan keenggananya untuk sujud kepada nabi Adam sesuai dengan perintah Allah Ta’ala. Nabi adam melakukan kesalahan dengan melanggar larangan Allah, yaitu memakan buah terlarang. Bukankah keduanya sama-sama melakukan kesalahan?

Setelah melakukan kesalahan, nabi Adam langsung mengetahui kesalahannya dan secara langsung meminta ampun agar di bukakan pintu maaf untuknya. Hasilnya, Allah maafkan dan Allah muliakan Adam di dunia maupun di akhirat. Allah jadikan sebagai khalifah di muka bumi. Hal demikian terekam indah pada firman Allah, di Surah Al-Baqarah ayat ke 37:

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari tuhannya, lalu Dia pun menerima taubatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang”.

Lalu, bagaimana dengan iblis? Iblis berbeda dengan nabi Adam. Ketika jelas-jelas melakukan kesalahan, iblis tidak lantas memohon kata maaf dari Allah, melainkan iblis dengan lantang menyalahkan Allah dan tidak mau mengakui kesalahannya. Hasilnya, Allah murka kepada Iblis dan menghinakannya bahkan mengutuk atas kesombongan yang dilakukan oleh iblis. Hal tersebut telah Allah ceritakan pada surah Al-A’raf ayat ke-16:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“(Iblis) menjawab, Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus”.

Dalam kasus ini Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Fawaid berkomentar: “Nabi adam melanggar larangan Allah karena dorongan hawa nafsu, sementara iblis melanggar perintah Allah karena dorongan kesombongan, kesombongan itulah yang berakibat fatal”.

Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam juga bertutur: “Kemaksiatan yang melahirkan penyesalan dan hina diri di hadapan Allah itu lebih baik dari pada ibadah yang melahirkan kesombongan”.

Kalau kita ingin sedikit flashback tentang kedudukan iblis sebelum kisah pembangkangan itu, kita pasti akan tahu bagaimana ketaatan dan posisi iblis sebagai makhluk langit. Karena ketaatan dan ibadahnya, iblis bisa berada pada derajat mulia. Disejajarkan dengan kedudukan mulia para malaikat. Tapi, karena kesombongan dan merasa diri lebih baik daipada Adam, maka hanguslah semua kedudukan mulia tersebut dalam sekejap.

Allah Ta’ala memang sangat membenci sifat sombong yang ada pada diri seorang hamba. Tidak pantas seorang makhluk yang diciptakan oleh Sang Khaliq (Allah) berlagak sombong di bumi ini. Karena satu-satunya yang berhak untuk sombong, hanya Allah semata. Maka perihal kesombongan ini, dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي الْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي فِيهِمَا أَلْقَيْتُهُ النَّارَ

Kesombongan itu adalah selendang-Ku, Keagungan itu adalah sarung-Ku, maka barang siapa yang menandingi-Ku diantara keduanya maka akan aku campakkan ke Neraka”

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallama bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak akan masuk surga seorang yang di dalamnya bersemayam setitik rasa kesombongan (HR. Muslim)

Allahu Ta’ala A’lam bi as-Showab.

Medan, 9 Maret 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *