Penuntut Ilmu Adalah Mujahid Fi Sabilillah

مَنْ خرج فى طلب العلم فهو فى سبيل الله حتى يرجع

Siapa yang keluar menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali

 

Ilmu itu ibarat mutiara di dasar laut. Siapa yang menginginkannya, maka ia harus mencarinya, bukan hanya menantinya.

Melakukan perjalanan di berbagai negeri untuk mencari ilmu sudah menjadi tradisi ulama terdahulu. Bahkan seakan menjadi kunci utama untuk sukses menuntut ilmu.

Kebesaran nama Imam asy-Syafi’i (150H s/d 204H) tidak terlepas dari perjalanannya menuntut ilmu di berbagai negeri. Setelah belajar di Mekkah, Imam asy-Syafi’i melakukan perjalanan pertamanya ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik, kemudian melanjutkan perjalanan ke Baghdad berguru kepada dua murid Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Lalu pada tahun 199 H, Ia menuju Mesir dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Orang yang melakukan rihlah dalam mencari ilmu mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Rasulullah saw. mengatakan mereka berada di jalan Allah swt.

Ada beberapa alasan mengapa para menuntut ilmu disamakan dengan para mujahid.

Pertama. Orang-orang yang berilmu dan keluar dari negeri meninggalkan keluarga dan kerabat untuk mencari ilmu. Dalam menempuh jarak yang jauh, para penuntut ilmu akan menghadapi berbagai kesulitan sebagaimana dengan orang–orang yang berjihad di jalan Allah.

Kedua. Orang-orang yang berilmu dapat melenyapkan kebodohan, sehingga mereka mampu beribadah kepada Allah dengan benar sebagaimana orang-orang yang berjihad mampu melenyapkan kekufuran.

Ketiga. Orang-orang yang berilmu mampu menjawab pemikiran-pemikiran yang sesat yang ingin menghancurkan Islam sebagaimana orang-orang yang berjihad mampu melawan orang-orang yang ingin menghancurkan Islam dengan senjata.

Pada abad kedua lahir kelompok yang membawa pemikiran untuk menolak Sunnah dan Khabar ahad sebagai sumber hukum Islam. kalau saja pemikiran ini diterima, maka banyaklah aqidah, hukum dan ibadah yang selama ini diyakini umat Islam menjadi gugur.

Namun, pemikiran ini tidak terjadi setelah argumentasi mereka dipatahkan oleh sang pembela sunnah Imam asy-Syafi’i. Semenjak itu imam asy-Syafi’I digelar dengan nashir as-Sunnah.

Perawi Hadis 

Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, Abwab al-‘Ilmi, bab Fadhli Thalab al-‘Ilmi, hadis nomor 2647

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *