Membangun Kesalehan Individu

Masalah individu dalam Islam merupakan masalah yang sangat mendasar, karena individu merupakan pondasi awal dalam membentuk sebuah jama’ah atau komunitas. Jika individu-individu yang hidup dalam sebuah komunitas itu baik dan berkualitas, maka komunitas itu akan baik dan berkualitas pula. Dan demikian pula sebaliknya.

Ketika berbicara tentang individu, maka hal pertama dan yang terpenting untuk dibahas adalah masalah akidah. Dalam Islam, akidah adalah hal yang harus diajarkan pertama kali dalam diri seorang muslim. Ia  harus terhujam ke dalam lubuk sanubari yang paling dalam pada diri seorang muslim. Akidah bagaikan benih yang ditanam. Jika benih itu baik, maka ia akan tumbuh menjadi pohon yang besar, kuat dan memiliki daun yang lebat serta buah yang banyak. Baik dan buruknya kualitas akidah yang terdapat dalam diri manusia, semua akan tercermin dan tampak pada tingkah laku seseorang.

Hal kedua yang diperhatikan dalam ajaran Islam yaitu jasad atau tubuh manusia. Islam begitu memperhatikan masalah ini dengan begitu cermat. Islam memberikan ajaran kepada umatnya untuk selalu bersih dan selalu bersuci serta menganjurkan untuk berolah raga. Bahkan menjadikan kebugaran dan kesehatan tubuh menjadi sebuah “keistimewaan” dalam Islam. Dalam haditsnya, Rasulullah saw bersabda:”Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah…”

Hadis di atas menunjukkan bahwa dalam ajaran Islam ada penggabungan antara kekuatan tubuh dan kekuatan jiwa spritual, serta mengkaitkan antara dua hal tersebut dengan keimanan kepada Allah dan keimanan kepada qadha dan qadar. Islam juga mengajarkan agar kita selalu menghindari segala sesuatu yang merusak diri, mengharamkan segala sesuatu membahayakan dan merendahkan diri dan jiwa manusia. Di samping itu Islam juga memberikan arahan-arahan  agar manusia dapat menjaga kedamaian dan kesalamatan dalam hidupnya.

Di sisi lain, Islam melarang praktik-praktik yang tidak sesuai dengan ajarannya seperti meninggalkan kebutuhan makan dengan alasan zuhud, memutuskan diri untuk tidak menikah dengan alasan beribadah, mengharamkan puasa yang berkelanjutan (shaum dahr), mengharamkan pembunuhan atau perbuatan bunuh diri dan lain sebagainya.

Dalam ajaran Islam yang lain dinyatakan bahwa sebuah beban atau perintah untuk melaksanakan ibadah hanyalah diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kemamampuan melakukannya. Islam juga membuka atau memberikan peluang rukhsah (keringan) dalam beribadah karena disebabkan sakit atau karena ada alasan-alasan syar’i. Intinya bahwa kesehatan tubuh dalam ajaran Islam lebih di dahulukan ketika ingin melakukan ibadah-ibadah yang diperintah Allah SWT.

Hal ketiga yang menjadi perhatian Islam adalah akal. Islam meletakkan akal sesuai dengan posisinya, tidak dielu-elukan sehingga ia begitu disanjung, tidak direndahkan sehingga ia dihina, tidak pula dijadikan panutan sehingga ia disakralkan atau didewa-dewakan. Islam tidak membebani akal dengan hal-hal diluar kemampuannya, seperti misalnya memberikan penafsiran-penafsiran tentang hal-hal ghaib. Dengan memposisikan akal sesuai dengan kemampuannya, berarti Islam telah menjauhkan akal dari kesesatan dan segala bentuk penyelewangan, menunjukkannya ke jalan yang benar.

Islam juga mengajak dan menyeru manusia untuk selalu berfikir, bertadabbur dan merenungi alam semesta ciptaan Allah SWT, mengungkap tabir-tabir rahasianya serta dapat memanfaatkan segala yang diciptakan Allah dalam hal-hal kebaikan. Hal ini seperti yang termaktub dalam alqur’an,  Surat Luqman: 20:

Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.

Demikian pula seperti yang termaktub dalam Surat: al-Jatsiyah: 12:

Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur.

Perhatian Islam yang begitu besar kepada kedudukan akal juga dapat dilihat ketika Islam mengaitkan masalah taklifatau melaksanakan perintah dan larangan yang terdapat dalam hukum Islam dengan akal. Islam tidak memberikan taklif kepada anak kecil, orang yang hilang kesandarannya  atau orang gila untuk melasanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya karena mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki akal yang sempurna. Islam hanya akan memberikan taklif  kepada orang yang memiliki akal dan  mencapai usia baligh. Dalam upaya untuk menjaga keberadaannya, Islam memperkenankan akal untuk selalu dapat mengembangkan dan memperluas wawasannya dan mengharamkan segala hal yang dapat melemahkannya, mengotori dan mencelanya seperti meminum minuman yang memabukkan atau mengkonsumsi barang-barang terlarang. Bahkan dalam rangka untuk menjaga eksistensi akal, Islam menjadikan konsep hifzul mal (menjaga harta) sebagai salah satu bagian dari maqashid al-syari’ah (tujuan-tujuan syari’at). Hal ini karena posisi akal dalam Islam begitu penting, dan tanpanya kehidupan tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Adapun hal keempat yang menjadi perhatian Islam adalah ruh. Jika jasad manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka ruh juga membutuhkan keyakinan, keimanan serta kehadiran Sang Pencipta di hati. Ruh selalu berlindung kepada zat Tuhan untuk mendapatkan kebaikan, ketenangan dan selalu memohon pertolongan kepadaNya tatkala ia dalam kesempitan atau dalam masalah. Demikianlah sehingga Islam mewajibkan untuk melaksanakan ibadah-ibadah, zikir dan sebagainya  sebagai usaha untuk dapat memperindah ruh serta memperkuat hubungannya kepada Allah SWT secara langsung. Allah berfirman dalam surat al-Anfal; 2-4:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.

Dalam Islam ruh dididik dengan selalu mengadakan hubungan dengan Allah SWT dalam setiap waktu, dalam setiap perbuatan, pikiran dan dalam setiap perasaan. Dengan adanya hubungan yang kuat ini maka jiwa manusia akan terbebas dari segala belenggu; belenggu kehinaan, belenggu kekhawatiran serta ketakutan yang menyendera dirinya. Lalu kemudian jiwanya pun  akan menjadi jiwa yang sempurna, jiwa yang penuh dengan kemulian. Ia akan menolak segala penghambaan kecuali hanya kepada Allah SWT. Jiwanya akan menjadi khusu’ jika berhadapan dengan kemulian Tuhannya, sembari mengharap pahala dari-Nya, takut akan azabNya. Jiwanyapun akan menjauhi segala bentuk kejahatan, keburukan dan kerusakan.

Membangun moral seseorang bukan hanya penting untuk kehidupannya sebagai individu, namun juga memiliki arti yang lebih penting dalam membangun masyarakat serta peradaban manusia. Karena seseorang tidak mungkin hidup bahagia dalam sebuah komunitas masyarakat, jika masyarakat dimana ia tinggal telah rusak. Begitu juga sebaliknya, merupakan sebuah kemustahilan jika ingin membentuk sebuah komunitas masyarakat yang baik, namun diisi dengan individu-individu yang yang tidak baik. Begitu pula jika masyarakatnya diisi oleh individu-individu yang baik dan yang tidak baik. Karena hal itu akan melahirkan konflik yang berkepanjangan dan tiada henti antara kebaikan dan keburukan.

Jika individu-indidu yang tinggal dalam komunitas masyarakat itu tidak baik, maka sudah dipastikan masyarakatnya juga tidak baik, karena pada hakekatnya individu-individu itu adalah asas atau dasar dari sebuah bangunan masyarakat. Jika demikian maka sudah seharusnya untuk memulai dari individu, membentuknya menjadi insan yang saleh, insan yang penuh dengan nilai kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain. Usaha untuk membangun kesalehan ini tentulah bukan hal yang mudah, karena proses membangun moral individu dalam kacamata Islam membutuhkan usaha besar yang terus menerus. Membangun moral individu merupakan  proses penataan jiwa dan pelatihan anggota tubuh yang dilakukan setiap saat dengan penuh kesadaran, yang disertai dengan sikap empati kepada masyarakat. Dengan proses ini, jiwa akan memiliki akhlak yang baik yang senantiasa diamalkan dalam kehidupan pribadinya dan dalam masyarakatnya. Misalnya saja sikap kejujuran, sikap ini akan menghadirkan kebaikan dalam jiwa, melahirkan ketenangan dalam hati, membuahkan sifat istiqamah dan mencegah sifat kemunafikan. Sikap jujur ini juga akan menghasilkan kepercayaan masyarakat. Sebaliknya kebohongan hanya akan membuahkan kejahatan dan keburukan yang dapat menanamkan perasaan gelisah dan tidak tenang dalam diri. Sikap-sikap ini akan menyebabkan terkikisnya keperyaan diri pada sipelaku dan ia pun tidak akan dipercaya masyarakatnya

Pembahasan akhlak dalam Islam sangatlah terkait secara vertikal dengan Allah SWT, karena apapun yang dikatakan dan dilakukan seorang muslim semuanya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT. Hal ini tentu sangat berbeda dengan akhlak atau moral yang dibahas dalam pemikiran-pemikiran filsafat terutama materialisme yang hanya terfokus pada masalah tukar menukar manfaat. Adapun Islam mengajarkan bahwa segala perbuatan yang dilakukan hanya tertuju kepada-Nya, tidak ada maksud lain untuk untung maupun rugi. Ajaran Islam ini menyelamatkan dan membersihkan jiwa manusia dari segala sikap ego yang merusak.

Ajaran-ajaran Islam yang begitu luhur mengajak setiap muslim untuk dapat “melestarikan” keyakinan imannya kepada Allah SWT dengan berusaha sekuat tenaga menyucikan jiwanya yaitu dengan cara melaksanakan ibadah-ibadah seperti shalat, zakat, puasa dan haji.

Shalat adalah upaya untuk membersihkan jiwa dari segala macam bentuk keburukan dan kesalahan serta upaya untuk membakar dosa-dosa. Disamping itu shalat adalah merupakah hubungan yang terjalin antara manusia dan Tuhannya. Zakat merupakan usaha untuk membersihkan jiwa dari kebakhilan dan sebagai wasilah untuk saling mencitai antara si kaya dan si miskin. Dengan puasa, seseorang akan merasakan sakit dan derita lapar, hingga ia pun akan berempati kepada orang-orang yang lemah. Disamping itu bahwa puasa merupakan sarana untuk melatih jiwa agar memiliki kemauan yang kuat dan mampu menghadapi segala cobaan serta dengannya jiwa digembleng agar dapat melawan hawa nafsu yang kerap mengajak jiwa kepada perbuatan-perbuatan buruk. Haji adalah upaya penyatuan seluruh muslim yang ada dalam satu tempat, agar mereka dapat mengenal satu sama lain, saling mengasihi, dan saling tolong menolong. Haji juga merupakan salah satu bentuk ketaatan seorang hamba atas perintah-perintah Allah serta kesyukuran atas segala nikmat-nikmatNya.

Demikianlah ibadah-ibadah yang wajib dalam Islam. Namun ibadah-ibadah ini bukanlah segalanya, karena masih ada ibadah-ibadah lainnya. Islam meluaskan makna ibadah kepada segala hal hingga meliputi segala gerakan dalam kehidupan. Setiap perbuatan yang dilakukan sebagai rasa tunduk dan patuh atas perintah Allah adalah merupakan ibadah dan segala perbuatan yang ditinggalkan karena Allah juga merupakan ibadah.

Intinya bahwa segala perbuatan dalam berbagai aspek kehidupan jika dilakukan sesuai dengan petunjuk-petunjuk Islam serta dilakukan pula dengan mengharap ridha Allah SWT semata, maka itu adalah ibadah. Ibadah-ibadah yang dilakukan ini kiranya akan dapat membangun mental serta akhlak mulia dalam diri seorang muslim. Dan akhlak mulia tidak akan terbangun kecuali dengan menanamkan nilai-nilai keimanan serta prinsip-prinsip Islam pada diri seorang muslim semenjak kecil. Wallahu a’lam bis-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *