Buku Sebagai Warisan (4); Catatan -Rehat- Membaca “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” (7)

Nama Ustadz Ahmad Fauzi telah saya ceritakan di Buku Sebagai Warisan (2); Catatan Membaca “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” (5). Saya ceritakan juga sedikit di sana bahwa beliau sedang mengerjakan karya hebatnya mengenai warisan intelektual ulama nusantara. Sampul yang menjadi catatan ini adalah pertimbangan pertama perwajahan dari buku yang -diperkirakan- menjapai 400an halaman ini.

Saya merasa beruntung diamanahi beliau menjadi pembaca draft naskah lengkap buku tersebut -sambil didorong-dorong juga untuk mencermati kesalahan tik, kurang dipahaminya kalimat dan seterusnya, dan seterusnya layaknya kerjaan editor. Padahal, saya pun terkadang salah dalam menulis dan masih mau terus belajar seluk-beluk dunia penulisan. Tapi, kepercayaan adalah suatu yang berharga bukan? Karena penghargaan seringkali tidak datang berkali-kali, maka mulailah saya membaca naskah itu, kemarin, 24 Februari 2018.

Aha!

Saya semakin yakin dengan judul-judul saya ketika membahas buku “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication”, yang dieditori oleh George N. Atiyeh, seorang pustakawan berkebangsaan Lebanon.
Bahwa buku adalah benar-benar sebuah warisan yang memuat buah pikir, gagasan cemerlang dan ide-ide besar dari seseorang. Ringkasnya, suatu warisan intelektual.

Lihatlah. Dari judul buku yang, insya Allah akan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah itu, jelaslah sudah bahwa ulama-ulama terdahulu telah memberikan bukti karya-karya mereka adalah warisan yang begitu berharga. Warisan itu, amat sangatlah disayangkan, bila terkulai begitu saja, menjadi barang yang dilihat-lihat saja, lantas dilupakan. Warisan itu adalah kerja intelektual mereka. Kerja pikiran mereka. Kerja yang tidak dapat dipandang sebelah mata karena kerja sedemikian rupa terbukti melahirkan peradaban Islam “rasa” Nusantara.

Mau dikasih bocoran?

Hahahaha…

Adalah tidak baik untuk membocorkan suatu hak kekayaan intelektual seseorang jikalah itu belum ‘waktunya’ untuk dibocorkan.

Maka, tunggu sajalah beberapa hari ini. Mudah-mudahan saya mendapatkan izin dari beliau hehehe…
Namun, secara pribadi, saya akan mengatakan bahwa;

Karya ini sangat-sangat berharga

Minimal, ya, karena saya editornya wkwkwkwkwkw

“Mudah-mudahan kenarsisan ini tidak menurunkan daya jual buku ini nanti.”

Amin.

Lalu, apa hubungan buku Warisan Intelektual Ulama Nusantara karya Ahmad Fauzi dengan “The Book in the Islamic World; The Written Word and Communication” yang saya bahas dalam serial catatan ini?

Dalam judul, saya gunakan kata ‘rehat’ sebagai penjelas bahwa buku yang sedang di tangan saya naskah mentahnya ini adalah bentuk rehat saya dalam membaca buku editan George N. Atiyeh. Bukan karena isinya yang lebih ringan, tetapi;

Dunia pemikiran itu berat. Maka, perjelaslah dengan keterangan yang ringan.

Dan itu, telah sukses diperagakan Ahmad Fauzi dalam karyanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *