Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama (1)

Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan. Itu semua bukanlah barang baru yang harus diributkan, terlebih bagi para penuntut ilmu. Sejak ribuan tahun lalu, para pendahulu kita dari kalangan terbaik umat ini saja sudah berbeda dalam pendapatnya, akan tetapi perbedaan di antara mereka tidak menjadikan mereka sampai berperang dan terpecah belah. Perbedaan itu terjadi hanya pada masalah  furu’ (cabang) saja, bukan pada masalah ushul (pondasi). Adanya perbedaan pendapat tersebut bukanlah sebuah aib yang harus dicela, melainkan itu semua adalah salah satu contoh kemudahan dan izzah umat islam itu sendiri.

Kalau kita perhatikan bahwasanya perbedaan pendapat di kalangan ulama itu tidak hanya terbatas di antara 4 mazhab atau lebih, melainkan perbedaan itu juga terjadi di dalam satu mazhab itu sendiri.

Perbedaan ini kalau dihadapkan kepada orang awam akan menjadikan dia bertanya-tanya, “bukankah agama ini hanya satu? Bukankah syariat ini satu? Bukankah kebenaran itu hanya satu dan tidak berbilang? Kenapa para ulama bisa berbeda pendapat?”. Kalau orang awam yang berkeyakinan dan bertanya-tanya seperti itu rasanya sah-sah saja. Mengingat posisi awam adalah posisi seseorang yang membutuhkan pencerahan sehingga hilang rasa was-was yang ada pada dirinya.

Mengenai perbedaan, Syaikh Wahbah Az-Zuhaily dalam Muqoddimah kitab fenomenalnya Al-Fiqh Al-Islamiy wa Adillatuhu, 1/84 berujar:

وقد يستغرب الشخص العادي غير المتخصص في الدراسات الفقهية مثل هذا الاختلاف، لاعتقاده أن الدين واحد، والشرع واحد، والحق واحد لايتعدد، والمصدر واحد وهو الوحي الإلهي، فلماذا التعدد في الأقوال، ولم لايوحد بين المذاهب، فيؤخذ بقول واحد يسير عليه المسلمون، باعتبارهم أمة واحدة؟! وقد يتوهم أن اختلاف المذاهب اختلاف يؤدي إلى تناقض في الشرع، أو المصدر التشريعي، أو أنه اختلاف في العقيدة كاختلاف فرق غير المسلمين من أرثوذ كس وكاثوليك وبروتستانت، والعياذ بالله!! وهذا كله وهم باطل.

 Sebagian besar dari kalangan awam akan merasa heran dengan perbedaan ini (perbedaan pendapat di kalangan ulama), karena dalam dirinya meyakini bahwa agama itu satu, syariat itupun satu, kebenaran itu satu dan tidak berbilang, sumbernya pun satu yaitu wahyu dari Allah Ta’ala, tapi kenapa perbedaan pendapat itu bisa terjadi? Kenapa pendapat itu tidak dijadikan satu yang mengacu kepada kemudahan untuk kaum muslimin dengan alasan umat ini adalah umat yang satu? Mereka juga menyangka bahwa perbedaan inilah yang akan membawa kepada perpecahan dan kontradiksi di dalam syariat atau sumber itu sendiri, atau perbedaan ini disandingkan dengan perbedaan yang terjadi kepada kelompok-kelompok di luar islam, seperti Ortodox, katolik, protestan, (semoga Allah melindungi kita dari itu semua). Ini semua adalah sangkaan yang salah dan tidak mempunyai sandaran.

Melihat kepada itu semua maka yang dibutuhkan adalah ilmu. Ilmu yang menjadikan kita berlapang dada atas perbedaan itu. Karena ketika seseorang semakin berilmu maka akan menjadikan hatinya semakin luas dan menerima perbedaan itu sendiri. Karena ada sebuah kaidah mengatakan:

من قلّ علمه كثر إنكاره، ومن كثر علمه قلّ إنكاره

“Barang siapa yang sedikit ilmunya maka akan banyak pengingkarannya, dan barang siapa yang semakin bertambah ilmunya maka akan sedikit pengingkarannya”.

Namun demikian, berlapang dada disini bukan kepada setiap perbedaan yang ada. Berlapang dada disini terbatas kepada sesuatu yang memang para ulama kita telah lama membahasnya dan terbagi kepada beberapa pendapat. Masing-masing dari pendapat dibangun dengan hujjah dan dalil yang kokoh. Mereka saja yang ilmunya seperti lautan tak bertepi masih berlapang dada terhadap perbedaan itu sendiri. Kenapa kita yang masih amatiran berkoar-koar bahkan menyalahkan para ulama terdahulu? Wal ‘iyadzu billah wa Allahu al-Musta’an.

Medan, 18 Maret 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *