Karakter Bangsa Terbaik Menurut HAMKA; Resensi Akhlaqul Karimah Karya Buya Hamka

Karakter Bangsa Terbaik Menurut HAMKA

Judul Buku : Akhlaqul Karimah

Penulis : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit : Gema Insani

Cetakan : Pertama, Depok, Rabi’ul Awwal 1439H/Desember 2017M

Tebal : 238 hlm; 20,5 cm

Resensator : Irwan Haryono S., S.Fil.I

***

“Suatu tanda kelemahan ialah takut akan kesukaran yang masih jauh, padahal apabila kesukaran itu telah ditempuh tidak sebesar yang diduga.”

Sengaja saya mulai tulisan ini dengan pesan Buya Hamka yang menggugah, agar kita termotivasi menuntaskan proses membaca bukunya. Sebab membaca bukunya tidak seberat yang kita duga, bahasanya tidak seilmiah yang kita sangka, coba baca dan dirasa-rasa, adakah dia sebagai sosok yang menggurui atau sosok kakek yang mengayomi dan memberikan hikmah pada cucu yang selalu dirindukannya.

Buku ini memiliki 5 Bab sebagai dasar pembagian penjelasannya. Bab 1 Kebaikan Budi, Bab 2 Hak dan Kewajiban, Bab 3 Etika Rakyat dan Pemimpin, Bab 4 Penyakit Hati dan Bab 5 Hidup Beramal dan Beribadah. Dalam setiap bab memiliki spesifikasi pembahasan masing-masing yang akan dijelaskan resensator lebih lanjut.

Dalam pembahasan bab pertama, buku ini menyentuh ranah sensitif pergaulan dunia, hawa nafsu, ghadab (marah), penyakit batin dan cara mengantisipasi serta mengobatinya, dan salah satu obat mujarabnya adalah dengan merutinkan Riyadhah (latihan Batin).

“……….. Demikian pula nafsu amarah (ghadhab) dan syahwat. Akan mudah dikendalikan dengan syarat-syarat yang kita ikuti dan kita lakukan, sebab untuk menghapusnya sama sekali tidak bisa. Namun adakalanya, memberi bentuk yang baik dengan riyadah (latihan batin) dan mujahadah (kesungguhan) tentu akan berhasil.

Tidaklah maksud mujahadah hendak menghapus syahwat sama sekali, tetapi mengembalikannya kepada i’tidal (pertengahan antara berlebih-lebihan dan berkurang-kurangan). Maka dari itu, tempat kembali marah dan syahwat ialah i’tidal artinya bukan syahwat dan marah yang menggagahi akal dan mengalahkannya, tetapi akallah yang memerintah dan menang atas keduanya.”

Dalam Bab kedua, ulama bergelar profesor ini memaknai wajib dalam wujud yang sangat ideal. Menggunakan kaca mata islam untuk menjelaskan semua tentang kewajiban dan hak, untuk itu makna wajib dikembalikannya ke dalam kaidah Syara’, moral dan etika. Sehingga makna wajib adalah suatu hal yang apabila dikerjakan berpahala dan apabila ditinggalkan berdosa. Berharap dengan memberikan pakem yang jelas, dapat menghambat dari liberalisasi makna dan istilah.

Setelah membahas wajib dengan pendekatan bahasa, bab ini membahas lebih dalam tentang diri, masyarakat, hak dan kewajiban. Diantaranya: Hak hidup, hak kemerdekaan, hak persamaan, hak politik, hak mencari rezeki, hak perlindungan anak, hak pelajaran, hak orang ramai kepada masyarakat, hak jiwa dan hak tubuh. Sampai pada satu titik akhir hak dan kewajiban beliau berpesan keras: “Tinggalkan godaan nafsumu, kerjakan kewajiban di dalam hidup, walaupun lantaran itu engkau akan menempuh kematian.”

Lebih terperinci lagi beliau mengklasifikasikan kewajiban dalam 4 pengelompkan: Yaitu Pertama Kewajiban kepada diri sendiri, yaitu kesopanan diri. Kedua kewajiban kepada orang lain, yaitu kesopanan masyarakat. Ketiga kewajiban kepada Allah, yaitu kesopanan kepada agama, dan kewajiban kepada binatang, yaitu  kesopanan belas-kasih. Penjelasan hak dan kewajiban memang tidak akan ada habisnya, ada baiknya pembaca berlama-lama menikmati bab ini, kiranya ada sisi yang mungkin bisa terbantu.

Di bab ketiga, pembahaan terpusat pada Etika Rakyat dan Pemimpin. Dalam hal ini ada seutas pesan nasihat Raja Plefus pada anak-anaknya yang kira-kira dapat kita ambil hikmah darinya:

“Hendaklah diketahui bahwa untuk mencapai suatu cita-cita yang tinggi diperlukan pengorbanan dan kerja keras. Bercita-cita hendak menjadi orang terhormat harus berani berkorban menjalani kehinaan, bercita-cita menjadi hartawan, sebelum sampai ke sana dia merasakan kemiskinan. Ketahuilah anakku, banyak juga orang yang meraih cita-cita melalui jalan yang salah atau tujuan yang menghalalkan segala cara. Hal itu karena orang telah dikuasai nafsu, mementingkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Akibat menurutkan hawa nafsu, menimbulkan terjadinya kekacauan yang dapat merugikan semua pihak termasuk dirimu sendiri. Oleh karena itu, janganlah engkau turutkan godaan nafsu dan tetaplah engkau berlaku jujur dan dengan kerja keras demi mencapai cita-cita.

Jangan berat tangan membantu orang lain dan jangan didatangkan kepada mereka suatu perkara yang engkau rasa, jika perkara itu ditimpakan orang kepada dirimu, engkau tak sanggup menerimanya.

Tahan hawa nafsumu dan kelobaan, kendalikan syahwat, hilangkan rasa dengki, dan jangan banyak berangan-angan karena jika angan-angan terlalu banyak, hati pun sesat sehingga lupa pada tujuan semula.

Untuk mengurangi perasaan marah hendaklah engkau insaf bahwasannya tidak ada makhluk yang tak punya kesalahan. Adanya kesalahan tanda dia manusia. Boleh jadi ada sebab yang menjadikan dia berbuat seperti itu, boleh jadi musuh-musuhmu yang menghasutnya.

Jika maksudmu melepaskan dendam, ketahuilah bahwa dendam tidak akan pernah habis, dia bisa diwariskan pada anak cucuk.

Jangan dipergunakan pedang kepada orang yang cukup dipenjarakan dan jangan dipenjarakan orang yang masih bisa diperingatkan. Yang lebih dahulu harus diselidiki ialah perangai orang yang bersalah, bukan besar kecil kesalahannya.

Jika engkau berlebih-lebihan menjatuhkan hukum kepada orang, akibatnya atas budi pekertimu lebih besar dari padda akibat yang menimpa diri orang yang engkau hukum. Kadang-kadang hukuman itu tidak setimpal dengan kesalahannya. Oleh sebab itu, kendalikan dirimu seketika menjatuhkan hukuman. Hati-hatilah jangan sampai pedang atau cemeti memukul orang yang tidak bersalah dan jangan pula terlepas hendaknya dari pedang dan cemeti itu orang yang memang tidak akan baik lagi perilakunya jika tidak dengan itu.”

Nasihat di atas, meskipun bukan tertuju pada kita, kiranya dapat diambil manfaatnya. Lalu Buya Hamka membahas juga hal etika rakyat, yang memuat 2 sifat penting yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Pertama, pandai mempersatukan paham dan pendapat orang banyak. Kedua, teguh menjalankan pekerjaan. Jika hal ini terlatih dengan baik maka secara berkala bangsa terbaikpun akan terbentuk dengan sendirinya.

Sedangkan sosok pemimpin menurut Prof. Hamka harus mengetahui mana yang paling penting dari yang penting. Agar pemimpin tidak keliru dalam bertugas dan memberikan tugas. Untuk memudahkan, hal ini di bagi menjadi dua bagian, Pertama, pekerjaan kecil yang tidak perlu pemimpin turut mengerjakannya. Kedua, pekerjaan besar yang tidak boleh diwakilkan kepada orang lain. Jika sekiranya pekerjaan yang kecil pemimpin turut pula mengerjakannya, tentu pekerjaan besar akan terbaikan. Jika pekerjaan yang besar pemimpin wakilkan kepada orang lain, tanda perkara yang selama ini dipertahankan juga akan habis lenyap, barang yang dijaga, dipupuk, dan diperbaiki, dalam sebentar waktu akan rusak binasa.

Bab ke empat, Buya Hamka bercerita tentang penyakit hati, dan berfokus bahas pada 2 hal penting yaitu penyakit riya dan cemburu, dalam pembahasannya beliau sangat hati-hati mengartikan dan menjelaskan keduanya. Singkat bahasannya, lugas, gamblang dan tegas sikapnya. Hadir seperti konsultan memberikan solusi praktis dan logis.

Dan di bab terakhir yaitu Bab ke lima, Buya mengintisarikan buku ini pada satu nilai kehidupan yaitu amal dan ibadah. Dan ternyata beberapa bahasa daerah di Indonesia menyerap makna kata ibadah. Dimana Ibadah berarti perhambaan. Berasal dari arti kata ‘adbun. Orang sunda menyebut dirinya sendiri abdi, Orang Melayu menyebutkan dirinya hamba, dalam bahasa Indonesia sahaya, disingkat menjadi saya, dan dalam bahasa Jawa orang yang menghambakan dirinya dalam istana disebut “abdi dalem”.

Sedangkan dalam amal. Islam selalu mengaitkan amal perbuatan dengan penuh dasar dan keyakinan yang kuat biasa dibahasakan dengan kata iman. Sebab dalam Islam, Iman adalah dasar, sedangkan shalat dan ibadah lainnya adalah tiang. Di atas dasarnya itulah didirikan tiang, di atas tiangnya tersebut dibangunkan rumah agama. Jika ibadah sudah kokoh barulah amal datang sebagai bangunan yang berdiri megah di atas pondasi ibadah, niat, dan keyakinan yang kokoh.

Sebagaimana perintah Allah SWT yang terang dan gamblang sekali, menyuruh  supaya manusia beramal, yaitu dalam Surah at-Taubah: 105, yang artinya:

“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjalan.”

Ayat ini memberi kejelasan bahwa beramal adalah perintah dari Allah swt. Oleh sebab itu hukumnya dalam agama adalah wajib, (yaitu berpahala barangsiapa yang mengerjakan dan berdosa barangiapa yang tidak beramal, tidak bekerja). Dengan ayat ini jelas sekali bahwaannya menganggur adalah haram.

Sebagai penutup Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) yang akrab di juluki buya tersebut berpesan, bahwa dalam hidup dan ibadah kita harus banyak-banyak mempelajari dan mentadabburi surah ibarahiim, yaitu surat ke-14 dari ayat 32 sampai ayat 34, disana terang digambarkan bagaimana kejadian langit dan bumi, turunnya hujan dari langit membawa air, sehingga tumbuhlah buah-buahan, sampai kepada pelajaran kapal di lautan, sampai kepada sungai-sungai yang mengalir, sampai kepada terbit dan terbenamnya matahari, bulan sabit dan bulan purnama, pergantian siang dan malam, semuanya itu disediakan buat manusia. Jika semuanya itu tidak dapat mereka pergunakan, bukanlah Allah swt yang salah, melainkan manusialah yang lalai.

Selain itu lebih dalam lagi beliau mengantarkan pembaca untuk hikmat menelusuri dan merenungkan arti makna kehidupan dengan pertanyaan “Untuk apa hidup saya ini?” walaupun sekiranya manusia sudah tahu, tetap saja manusia terus bertanya juga, sebab diantara makluk Allah swt yang hidup di permukaan bumi ini, hanya manusialah yang selalu di penuhi tanda tanya. Bahkan yang menimbulkan filsafat timur dan filsafat barat ialah pertanyaan-pertanyaan seperti ini: “Untuk apa saya hidup? Untuk siapa saya beribadah? Untuk apa saya berjuang? Untuk siapa saya bekerja? Untuk apa saya beragama? Sampai kapan kehidupan ini akan berakhir? ” dan masih banyak rentetan pertanyaan filosofis lainnya, yang mengantarkan pemahaman manusia dari satu pertanyaan ke satu jawaban, berlanjut demikian dari pertanyaan berikutnya ke satu jawaban berikutnya hingga pada ujungnya akan kembali jawabannya kepada Dzat yang maha agung, maha kuasa, maha pemilik dunia, akhirat dan seisinya ialah Allah swt. Disana baru tidak ada lagi pertanyaan selain dzikir ta’jub akan kuasa Allah akan semua ciptaannya. Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illahu wallahu akbar.

Membaca buku ini sama seperti mendengarkan tausiah langsung lewat radio, recorder, yang dibawakan langsung oleh Buya Hamka, sebab setiap penjelasan poin kaya akan contoh, falasaf hidup khas melayu, dan minang, serta kental akan dasar keislaman dan ketauhidan yang mengairi tulisan ini, layaknya seorang kakek yang sedang menasehati cucunya untuk menjadi generasi penjuang yang besar, tangguh dan kaya akan visi – misi perjuangan dunia dan akhirat.

Namun begitu sebagai pembaca rindu rasanya mendengarkan penjelasan tentang penyakit hati lebih banyak lagi dari buku ini, sebab buku ini hanya berpusat pada 2 poin, yaitu tentang riya dan cemburu, besar harapan, cetakan berikutnya dapat ditambahkan oleh penyunting, editor atau penerbit agar dapat mengumpulkan tulian beliau yang lainnya, yang menyangkut tentang penyakit hati, agar bisa di tambahkan lagi.

Terlepas dari segala penilaian, buku ini memang layak dibaca dan dinikmati bagi siapa saja yang haus akan dahaga ilmu, sebagai bimbingan serta arahan hidup, berisi pembahasan khas hamka yang tidak di dapatkan di buku lainnya.

Waa’allahu a’alam bisshoab…

 

***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *