Niat Adalah Kunci

مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Siapa yang menuntut ilmu dengan niat menyaingi ulama, mendebat orang bodoh atau memalingkan wajah manusia kepadanya (popularitas), maka Allah memasukkannya ke dalam neraka

Menuntut ilmu adalah pekerjaan yang mulia, akan tetapi mesti disertai dengan niat yang baik. Jika menuntut ilmu itu dibalut dengan niat yang buruk, maka pekerjaan itu menjadi sia-sia, bahkan dibenci.

Dahulu, ada seorang laki-laki yang ingin melaksanakan hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah karena ingin menikahi seorang perempuan bernama Ummu Qais. Berita ini sampai kepada Rasulullah saw. Lalu, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang diberikan balasan sesuai dengan niatnya. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasulnya. Siapa yang hijrah karena dunia yang ingin dicapainya atau wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia hijrahkan. (H.R. Bukhari)

Sufyan ats-Tsauri adalah seorang ulama yang masyhur dengan keilmuan dan ibadahnya. Dalam satu kesempatan ia menyampaikan untaian kata dari pengalaman pribadinya, “ aku tidak pernah memperbaiki sesuatu yang lebih dahsyat dari pada niat, karena niat itu selalu berbolak-balik”.

Karena niat selalu berbolak balik sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan ats-Tsauri, maka niat haruslah dijaga dalam tiga tempat, yakni menjaga niat sebelum beramal, menjaga niat saat beramal dan menjaga niat setelah beramal.

Ada tiga bentuk niat yang salah di dalam menuntut ilmu yang disebutkan Rasulullah saw:

Pertama. Menuntut ilmu untuk menyaingi ulama dengan maksud riya ataupun sum’ah. Jika menuntut ilmu dengan niat ingin menjadi ulama atau ingin mendapatkan ilmu seperti ulama agar dapat menabur ilmu di jalan Allah tidaklah salah, bahkan itu perbuatan yang terpuji. Ibnu Hajar al-Asqalani di awal menuntut ilmu hadis berdoa saat meminum air zamzam agar dianugerahkan hafalan seperti imam adz-Dzahabi. Akhirnya, hafalan Imam Ibnu Hajar bisa menyamai Imam Ad Dzahabi bahkan lebih banyak, dan itu terjadi setelah 20 tahun sejak beliau menyampaikan doa tersebut.

Kedua. Menuntut ilmu untuk mendebat orang bodoh. Pada hakikatnya, orang yang menuntut ilmu adalah orang berusaha yang keluar dari ketidaktahuan dirinya menjadi tahu. Sehingga ia dapat beribadah kepada Allah swt. sesuai dengan tuntunan-Nya. Setelah itu, ia diminta untuk berbagi ilmu dengan orang lain dengan mengharap ridha Allah swt. bukan untuk mendebat orang bodoh sehingga ia tampak hebat di mata dunia.

Ketiga. Menuntut ilmu karena ingin mendapatkan perhatian manusia seperti harta, jabatan dan pujian. Orang yang beramal dengan merangharap ridha-Nya, akan dibalas Allah dengan memberikan ridha bahkan Allah jadikan manusia ridha kepadanya. Begitu pula sebaliknya, siapa yang mencari ridha manusia dengan menjadikan Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya dan Allah menjadikan manusia murka kepadanya.

Niat yang buruk dalam beramal ibarat menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium orang yang sekitar. Balasan yang dberikan Allah kepada orang yang salah niat ini tidaklah tanggung-tangung. Allah janjikan kepada mereka neraka.

Perawi Hadis

1.      Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, Abab al-‘Ilmi, bab fi Man Yathlub bi ‘Ilmihi ad-Dunya, hadis nomor 2654

2.      Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Majah, Iftitah al-Kitab, bab al-Intifa’ bi al-‘Ilmi a al-‘Amal bihi, hadis nomor 253

3.      Imam ad-Darimi dalam Sunan ad-Darimi, al-Muqadiimah, bab at-Taubikh Li Man Yathlub al-‘Ilma Li Ghairillah, hadis nomor 385

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *