llmu Itu Bukan Science

Qosim Nursheha Dzulhdi

Ilmu dalam lslam ternyata bukan science (sains), sebagaimana banyak dipahami sebagian besar orang. Karena ilmu dalam lslam memiliki hakikat yang khusus dan sangat berbeda dengan science. Untuk mendapat pemahaman yang detail, coba kita lihat definisi ilmu menurut al-Jurjani (w. 826 H) berikut ini:

الاعتقاد الجازم المطابق للواقع

“I`tiqad (keyakinan) yang kuat dan sesuai dengan realita”

Menurut ahli Hikmah (bisa juga: filsuf), ilmu adalah:

حصول صورة الشيء فى العقل

“Sampainya gambar sesuatu (objek) ke dalam akal”

Definisi pertama, kata al-Jurjani, lebih khusus dari definisi kedua.

Ada yang menyatkan juga bahwa ilmu itu adalah:

إدراك الشيء على ما هو به

“Mengetahui sesuatu menurut hakikat sesuatu itu”

Ada juga yang mendefinisikan ilmu dengan:

وصول النفس إلى معنى الشيء

“Sampainya jiwa kepada makna sesuatu”

(Lihat, `Ali ibn Muhammad ibn `Ali al-Sayyid az-Zain Abu al-Hasan al-Husaini al-Jurjani al-Hanafi (dikenal dengan as-Syarif al-Jurjani), Kitab at-Ta`rifat (Beirut-Lebanon: Dar al-Fikr, 1425-1426 H/2005 M), hlm. 110).

Jadi, ada kaitannya antara ilmu dan jiwa. Bahkan Prof. Dr. al-Attas (lahir 1931) menegaskan ada kaitan erat antara akal dan kalbu. Karena akal dan kalbu, kata al-Attas, adalah: alat-alat diri ruhani bagi menerima, menyimpan, mengekalkan dalam ingatan dan menyemak serta menyusun ilmu mengikut taraf penilaiannya dalam kehidupan diri. Ilmu adalah suatu gerak-daya memperoleh pengetahuan dan merujuk kepada suatu sifat yang berada pada sesuatu (insan) yang hidup, yang membolehkan diri yang mengetahui itu mengetahui yang diketahui. Ilmu juga pengenalan terhadap yang dikenali sebagaimana adanya. Pengenalan ini pengenalan yang yakin tentang kebenarannya, dan merujuk kepada hikmah. Maka, ilmu adalah sesuatu yang meyakinkan dan memahamkan dengan nyata.

Mengenali dan mengetahui sesuatu itu adalah mengenali dan mengetahui sebab-sebab wujud dan keadaan sesuatu yang dikenali dan diketahui.

Ilmu adalah gerak-daya memperoleh atau menghasilkan sesuatu menerusi tilikan akal –yaitu tilikan yang memandang hakikat sesuatu seperti adanya.

Ilmu juga perolehan kalbu mengenai sesuatu, yang menggambarkan hakikatnya dengan secara tepat dan jernih, baikpun hakikat hakikat yang zahir di alam syahadah mahupun yang batin di alam ghaib.

Ilmu adalah penetapan diri atau kalbu tentang kebenaran sesuatu sewaktu syak dan ragu-ragu timbul mengenainya.

Ilmu itu kepercayaan yang teguh dan tiada berubah di dalam kalbu. Ilmu itu adalah suatu gerak-daya ke arah penjelasan, penetapan dan penentuan.

Ilmu itu pengikraran terhadap kebenaran. Ilmu itu i`tikad mengenai hakikat sesuatu seperti adanya.

Ilmu mengakibatkan ketentraman hati. Ilmu itu merupakan peringatan, gambaran akal, renungan, pandangan batin.

Ilmu itu adalah sesuatu sifat yang menghapuskan kejahilan, syak dan dugaan. Ilmu itu kenyataan sesuatu dari pihak dirinya sendiri.

Ilmu itu cahaya yang diletakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala dalam kalbu. Ilmu itu gambaran rupacita, faham atau ma`na dalam fikiran, dan gerak-daya yang membentuk perkara-perkara tersebut.

Ilmu itu perkara dalaman, bukan perkara luaran diri. Ilmu adalah pengetahuan atau pengenalan yang tetap yang menafikan kemungkinan pengetahuan dan pengenalan sebaliknya.

Ilmu adalah rahasia yang diselipkan ke dalam diri dan menetap di situ. Ilmu itu tibanya ma`na ke dalam diri serempak dengan tibanya diri kepada ma`na, dan ilmu itulah yang menjadi hasrat dan kehendak diri.

Cukuplah bagi kita, simpul Prof. Al-Attas, kini untuk memahami bahwa ilmu, menurut faham Islam, adalah: suatu kesatuan yang mempunyai dua wajah yang dapat dibagi kepada dua perkara yang jelas; yang satu merujuk kepada pengenalan dan yang satu lagi kepada pengetahuan. Yang melengkap-sempurnakan ilmu, dengan memperkenalkan kepada diri batas kegunaan serta had ma`nawi pengetahuan serta pengenalan diri terhadap sesuatu perkara atau hal yang diketahui dan dikenali olehnya, adalah hikmah. (Lihat, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Tinjauan Ringkas Ilmu dan Pandangan Alam (Pulau Pinang-Malaysia: Penerbit Universiti Sains Malaysia, 2007), hlm. 12-13).

Dari pemaparan Prof. Al-Attas tentang makna dan hakikat ilmu menjadi begitu jelas apa sejatinya ilmu dalam pandangan lslam. Nah, sekarang apa makna science? Dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary disebutkan bahwa makna science adalah:

Knowledge about the structure and behavior of the natural and physical world, based on facts that you can prove, for example by experiments….

Kemudian science dikaitkan dengan studi terhadap etika manusia, misal: politik, sains domestik, ilmu bumi, ilmu politik, dan social science (ilmu sosial), dsb. (Lihat, AS Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (United Kingdom: Oxford University Press, 2015), hlm. 1384-1385).

Dari dilihat bahwa dalam ranah science tidak keterlibatan Tuhan, akal dan kalbu. Apakah mungkin definisi ilmu dalam lslam identik dengan knowledge? Mari kita rujuk kembali kamus Oxford di atas. Di sana diterangkan di sana bahwa sumber ilmu adalah education (pendidikan) dan experience (pengalaman). (Lihat, AS Hornby, Advanced, 866).

Lagi-lagi, sumber ilmu ilmu menurut konsepsi Barat tak lari dari akal dan sudah tentu sifatnya empiris.

Maka, menurut Prof. Dr. Ali Jumu`ah, istilah science tidak mengulas masalah ketuhanan (uluhiyyah), karena dianggap tidak ilmiah. Padalah ilmu dalam lslam melibat tiga unsur sekaligus: akal, pendengaran, dan `irfan (intusi). (Prof. Dr. Ali Jumu`ah, al-Mushthalah al-Ushuliy wa Musykilat al-Mafahim (Kairo: Dar ar-Risalah, 1425 H/2004 M), 5-6).

Mengapa ilmu dalam lslam erat kaitannya dengan kalbu, karena ilmu yang utama sumbernya adalah wahyu secara langaung. Kemudian adalah ilmu yang melalui spekulasi dan usaha-usaha rasional yang didasarkan pada pengalaman manusia terhadap hal-hal yang dapat diindera dan masuk akal. (Prof. S.M.N. al-Attas, lslam and Secularism (Kuala Lumpur: International Institute of lslamic Thought and Civilization [lSTAC], 1995), 146).

Dari sana semakin jelas dan terang bahwa konsep ilmu dalam lslam tidak dapat dilepaskan dari unsur ketuhanan. Karena sumber ilmu dalam lslam adalah wahyu, kemudian nalar dan usaha-usaha manusia lainnya.

Ilmu yang lepas dari unsur ketuhanan ini akibatnya menjadi sekular. Karena sekular sudah pasti menyimpang dan salah. Untuk itulah ilmu dalam lslam bukan science dan tak sekadar knowledge, karena ilmu dalam lslam memiliki makna khusus dan konsep khusus. Wallahu A`lam bis-Shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *