Individu Membutuhkan Masyarakat

Membentuk rasa pada setiap diri individu bahwa ia membutuh masyarakat adalah hal yang sangat penting. Hal demikian agar kiranya individu-individu itu dapat hidup di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan seseorang menjadi penting dalam sebuah masyarakat karena setiap individu tidak akan dapat hidup dengan nyaman jika ia hanya memperhatikan masalah-masalah pribadinya saja, tidak pernah menjaga perasaan orang lain serta menjaga hak-hak mereka. Ia juga tidak akan dapat hidup di dalam masyarakatnya jika ia hidup dengan mengisolasi diri, hidup dengan menyendiri dari masyarakat dan orang banyak. Sikap menyendiri ini hanya akan membuat diri menjadi terbebani dengan beban-beban psikologis. Bahkan sikap ini, dari sisi pendidikan akan menimbulkan efek yang tidak baik untuk anak-anak. Alquran telah mengecam sikap ini dengan memberikan nasehat bagi orang-orang muslim untuk bergaul dan menemani anak-anak yatim serta tidak menjauhi mereka, sehingga mereka, para yatim dapat hidup dengan penuh kehangatan persaudaraan dengan kaum muslimin lainnya. Dengan seperti ini, anak-anak yatim tidak lagi merasa hidup terisolisir dari masyarakatnya. Allah berfirman (Al-Baqarah: 220)

 …وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ …

… Dan jika kamu bergaul dengan mereka, Maka mereka adalah saudaramu …

Dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali menjelaskan beberapa faedah pergaulan ditinjau dari sisi kesehatan, sosial dan juga pendidikan. Beliau berujar sebagai berikut:

“Tidak ada kebaikan sedikitpun dalam ber’uzlah (mengasingkan diri) bagi siapapun yang belum memiliki pengalaman. Seorang anak jika dirinya diasingkan, maka ia akan menjadi seorang yang terbelakang dan bodoh. Dan pengalaman yang paling penting adalah tatkala seseorang mendapatkan pengalaman dari dirinya, dari moralitasnya serta dari sifat-sifat kepribadiannya. Namun hal-hal ini tidaklah menjamin seseorang mampu untuk dapat menyendiri atau ber-khalwah. Sesungguhnya kemudahan hanyalah bagi orang-orang yang sudah berpengalaman dalam hal itu. Setiap rasa emosi, dengki dan iri jika hilang dengan sendirinya, maka tidak ada jaminan keburukan dari sifat-sifat ini tidak akan kembali. Sifat-sifat ini adalah sifat-sifat yang merusak diri yang harus dihancurkan dan dipadamkan. Sikap-sikap ini tidak cukup hanya dengan menjauhinya dari sesuatu yang menggerakkan. Demikian pula dengan hati yang terbalut dengan sifat-sifat buruk, ia seperti halnya bisul penuh dengan rasa sakit. Bisa jadi yang orang yang terkena bisul tidak akan merasakan sakitnya, kecuali jika ia menggerakkannya atau juga jika disentuh oleh orang lain. Jika saja tangannya tidak menyentuhnya atau matanya tidak melihat bentuknya atau tidak ada pula ada seseorang yang menyentuhnya, bisa jadi ia menyangka bahwa dirinya sehat-sehat saja. Tidak merasakan bahwa ada bisul pada dirinya dan bisa jadi meyakini bahwa bisul itu telah hilang. Namun jika bisul itu itu digerakkan atau bisul itu dibekam, maka akan keluarlah sakitnya dan mengalirlah sesuatu yang menyakitkan. Demikian pula dengan hati yang dibalut oleh rasa iri, kikir, dengki, rasa emosi serta segala sifat-sifat buruk lainnya yang akan keluar jika ia digerakkan (dikeluarkan).”

Hal positif lain dari bergaul dengan orang lain seperti yang dinyatakan oleh al-Ghazali adalah bahwa di dalamnya ada nilai-nilai pendidikan (ta’dib), artinya adalah membiasakan diri dengan pola hidup orang lain serta berjuang atau mujahadah dalam menghadapi segala kesulitan yang dihadapi. Hal ini dilakukan untuk menundukkan nafsu dan syahwat diri.

Hidup menyendiri, menjauhi masyarakat hanya akan membuat diri menjadi terbebani secara psikologis, membuat diri menjadi terkekang dan terbatas serta akan merasa cemas. Demikianlah mengapa dalam ajarannya, Islam begitu memperhatikan keterkaitan hubungan antara individu dan masyarakat. Hingga menjadikan masyarakat menjadi seperti halnya sebuah badan. Bahkan Islam juga menyeru kepada individu-individu agara selalu membangun hubungan dengan masyarakat serta berbuat untuk kemaslahatan masyarakat. Dalam haditsnya, Rasulullah saw bersabda:”Hendaklah kiranya kamu selalu berjamaah (bermasyaraat) dan janganlah kamu berpecah belah, karena sesungguhnya syaitan selalu bersama dengan orang yang menyendiri dan ia (syaitan) akan lebih menjauh dari kedua orang. Dan barang siapa yang menginginan syurga hendaklah ia hidup dengan berjamaah”.

Islam juga mengajak setiap individu muslim agar menjaga kedamaian, kesatuan dan persatuan masyarakat dari segala bentuk perpecahan dan kehancurannya, dengan tidak melakukan hal-hal yang dapat membuahkan perpecahan, penyebaran isu-isu negatif yang berbau fitnah, membentuk mazhab-mazhab atau aliran-aliran yang sesat lagi menyesatkan masyarakat. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 103 dan 105:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,

Islam mengharuskan setiap muslim untuk meng-ishlah (mendamaikan) pihak yang terlibat dalam pertikaian dan konflik. Pertikaian dan konflik ini seperti halnya borok-borok luka yang terdapat dalam sebuah tubuh yang mengancam kesehatan tubuh itu sendiri. Jika borok-borok ini tidak lekas diobati, maka ia akan dapat mematikan tubuh. Jika pertikaian dan konflik tidak cepat diredam dan dicarikan solusinya, maka ia dapat menyebabkan kehancuran masyarakat. Allah telah mensinyalir hal ini dalam sabdanya (al-Anfal: 1), (al-Hujarat: 9)

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.

Dan masih banyak lagi teks-teks alquran maupun  hadits yang berbicara tentang amalan atau perbuatan yang harus dilakukan untuk kebaikan dan kemaslahatan jamaah.

Selain pada sisi teoritis seperti yang telah disampaikan alquran di atas, Islam juga memperhatikan sisi-sisi praktis atau aplikatif, seperti misalnya dalam hal ibadah, dimana para muslimin berkumpul dalam shalat jamaah atau berkumpul ketika datang musim haji di setiap tahun. Ibadah-ibadah yang dilakukan ini memberikan kesimpulan bahwa Islam adalah agama pemersatu, agama yang menyatukan hati-hati pada diri mukmin serta agama yang menyatukan orang-orang mukmin diatas satu tujuan. Wallahu a’lam bis-shawab

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *