Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama (2)

Syaikhul Islam Ibn Taymiyah dalam kitabnya yang berjudul al-Washiyyah as-Sughro mengemukakan sebuah nasehat kepada kita sebagai seorang penuntut ilmu ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat (Fiqih) di kalangan  ulama:

وإذا اشتبه عليه مما قد اختلف فيه الناس، فليدع بما رواه مسلم في صحيحه عن عائشة –رضي الله عنها- أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول إذا قام يصلّي من الليل: اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.

Dan tatkala seorang penuntut ilmu dihadapkan pada sebuah perbedaan pendapat, hal pertama yang harus ia lakukan adalah berdoa. Sebagaimana yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw dalam sebuah hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Aisyah –Semoga Allah Meridhoinya- bahwasanya Rasulullah Saw ketika melakukan shalat malam beliau selalu membukanya dengan sebuah doa: “Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang maha mengetahui hal yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang berhak menjadi hakim terhadap apa yang diperselisihkan oleh hamba-Mu, maka berilah aku petunjuk dalam kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan, sesungguhnya Engkaulah yang berhak memberi petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus”.

Hampir 2/3 dari permasalahan fiqih itu para ulama berbeda pendapat. Berbeda di sini bukan membuka pintu perpecahan, karena yang berbeda di situ adalah ulama, bukan awam. Ulama banyak ilmunya juga tinggi akhlaknya, juga yang paling takut sama Allah. Berbeda halnya ketika perselisihan itu terjadi kepada seorang awam, bukan malah mencari jalan keluar, malah lebih mementingkan hawa nafsu.

Nasehat bijak yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah tadi penulis rasa adalah sesuatu yang harus diamalkan oleh seorang penuntut ilmu ketika dirinya mulai dihadapkan dan mengkaji perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Kebiasaan yang terjadi di sekeliling kita ketika dihadapkan kepada ikhtilaf ulama, hal yang pertama kali dilakukan adalah membuka buku-buku fiqih, atau bertanya kepada ustadz, atau bahkan searching makalah-makalah terkait dengan hal itu. Kalau memang ini yang terjadi, sudah dipastikan kadar ketawakkalan kita kepada Allah kecil sekali. Terlalu mengandalkan kecerdasan otak, analisa dan kemampuan di dalam membuka lembaran-lembaran kitab hanya demi mencari kata kunci dari sebuah permasalahan yang dihadapi.

Sudah sepantasnya sebagai seorang penuntut ilmu menengadahkan tangannya ke langit, mengetuk pintu langit agar taufik dan hidayah Allah dilimpahkan kepadanya. Agar hati menjadi tentram dan pikiran menjadi terbuka sehingga menghasilkan jawaban yang benar-benar diinginkan oleh hati yang suci. Bukan terkontaminasi oleh hawa nafsu semata.

Berapa banyak orang yang untuk mencari jawaban dari sebuah perbedaan rela menghabiskan waktu berhari-hari, membaca buku demi buku dan membaca puluhan artikel, tapi tetap saja salah dalam bersikap. Itu terjadi karena taufik dan hidayah belum menempel dalam dirinya. Dia lupa bahwa ada sebuah kekuasan yang jauh lebih hebat yang dia lupakan pada saat itu. Bukan menghasilkan jawaban yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, malah melahirkan kebingungan yang tiada akhir. Kebingungan tersebut bukan hanya di rasakan olehnya, melainkan orang lain yang mendengar jawaban atau pemaparannya juga ikut kebingungan.

Kita ketahui bersama bahwa selama perbedaan pendapat tersebut masih dalam lingkaran 4 mazhab (Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, As-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah) maka itu masih dalam kategori Ahlussunnah. Karena setiap mazhab dari 4 mazhab tersebut berpegang kepada dalil atau hujjah yang tidak kalah hebatnya dari yang lainnya. Hanya saja pandangan terhadap metodologi dalam ber-istinbath-lah yang sedikit berbeda antara mazhab yang satu dengan yang lainnya.

Meskipun begitu, ketika perbedaan tersebut dihadapkan kepada kita sebagai penuntut ilmu, maka kita harus bisa bersikap dengan benar tanpa harus menyalahkan pendapat yang tidak sejalan dengan kita. Juga, kita diharuskan menyampaikan pada masyarakat awam ketika pertanyaan terkait diarahkan kepada kita. Bukankah kita harus cerdas dalam memilih kata agar tidak terjadi gesekan di kalangan masyarakat?

Allah Ta’ala juga telah mengingatkan dalam Surah Ghofir, ayat 60 yang berbunyi:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ.

“Dan tuhanmu berfirman,”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk kedalam neraka jahanam dalam keadaan hina dina.”

Ini juga sesuai dengan sabda Baginda Rasulullah Saw yang di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

من لم يدع الله غضب عليه

“Barang siapa yang tidak mau berdoa kepada Allah, maka Allah marah padanya”.

Oleh karena itu, ketika kita di hadapkan pada perbedaan pendapat di kalangan ulama, sebelum kita mulai mencari jawaban pada lembaran-lembaran kitab terkait, sebelum bertanya kepada asatidzah maka hal mulia yang harus kita lakukan adalah meminta hidayah dan taufik dari Allah Swt agar kita di cerahkan dengan hasil yang akan kita ketahui dan semoga dengan hasil tersebut menjadikan kita benar dalam bersikap dan mudah dalam menyampaikan kepada orang lain. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *