Kemerdekaan Indonesia Cerminan Republik Bangsa Muda: Resensi Dari Lembah Cita-Cita karya Buya Hamka

Judul Buku: Dari Lembah Cita-Cita

Penulis: Prof. Dr. HAMKA

Penerbit: Gema Insani, Depok

Cetakan: Pertama, Rabi’ul Akhir 1437H/Februari 2016 M

Tebal: 102 hlm; 18,3 cm

Resensator: Irwan Haryono S., S.Fil.I

Apakah perbedaan antara cita-cita dan angan-angan?

Apakah perbedaan anatara ideal dan real?

Apakah perbedaan antara hidup sekeder hidup dan hidup untuk suatu tujuan?

Apakah orang yang yakin, berpendirian, kuat keyakinan gentar dengan rintangan?

Apakah tali kehidupan dunia, yang jika kita berpegang teguh akan hilang rasa takut, timbul semangat juang, tahu akan hakikat kehidupan?

***

Pertanyaan diatas mewakili sekian intisari dari buku saku ini, jika tertarik, berhentilah sejenak, luangkan waktu bacalah satu sampai dua jam, akan Anda rasakan sebuah perbedaan. Buku ini seperti sajian disaat orang lapar, seperti air ketika orang dahaga, seperti selimut dikala orang kedinginan, seperti payung disaat orang kehujanan, seperti pohon rindang ketika orang kepanasan.  Ada ruh yang tertanam, ada semangat yang berkobar, ada pola pikir yang terus maju yang berkembang. Saran untuk dibaca terutama jika Anda pemuda, atau jika Anda berjiwa muda!

Jadilah Pribadi Berkepribadian Tangguh!

Tegaklah pada pendirianmu di dalam hidup ini dan berjuanglah. Sesungguhnya, penghidupan itu ialah pendirian dan perjuangan. Untuk apa kita diberi Allah swt akal dan pikiran? Supaya kehidupan kita berbeda dengan makhluk yang lain. Sebab itu, setiap pikiranmu berkelana dan ilmumu bertambah, tiap-tiap mata terjaga, pandanglah alam ini dengan pandanganmu sendiri. Jangan dibiarkan segala sesuatu berlalu di hadapanmu dengan selalu-lalunya saja, tetapi kaitkanlah dengan alasan penciptaanmu. Karena segenap alam ini terkait senantiasa dengan manusia.

Jadilah Anak Muda Yang Gila!

Pemuda itu adalah satu bagian dari gila. Dengan kegilaannya, ia mengadakan yang belum ada, dipahatnya batu, dibelahnya gunung. Tak penting halang rintang, jika itu alam, manusialah khalifahnya, jika itu lautan, langit bumi dan seiisinya Allah lah pemiliknya, dan dalam hal ini Allah telah menitipkannya pada sang khalifah. Jadi tidak perlu ragu, bahwa Allah swt ada, dan selalu menjadi Penolong dalam setiap sisi kehidupan.

Jadikan Semangatmu Setangguh Dua Remaja Muda Indonesia!

Dalam masa perjuangan kemerdekaan melihat sosok bung karno dan bung hatta buya hamka berujar: “Saya lebih senang dan merasa lebih berfaedah berhadapan dengan dua orang pemuda yang bersemangat dan bercita-cita yang senantiasa resah dan gelisah yang tiada merasa puas, yang hendak memahat batu, yang hendak mengisarkan bukit yang berkata: Inilah saya!” Sebuah ungkapan tulus rakyat yang benar-benar loyal pada pemimpinnya sebab pemimpin memiliki jiwa kepemimpinan yang sehat, beradab dan berakhlak.

Dua Kalimat sakti yang diyakini Bung Karno dan Bung Hatta, dan merasuk kedalam jiwa buya, menjadikan itu sebuah keyakinan hingga derajat 99 % Kebenarannya, seperti pekikan khutbah Bung Karno“Berikan kepadaku 1000 orang tua, aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi berikan kepadaku 10 Pemuda, aku sanggup mengguncangkan dunia” di sambung dengan teriakan Bung Hatta “Hai Pemuda, kamu adalah pahlawan dalam hatiku” ungkapan sakti menjadi cemeti, menjadi peluru dan menjadi meriam bagi kemerdekaan Indonesia.

Adakah mungkin tercapai kemerdekaan, padahal kuku kekuasaan Belanda telah terhujam sampai kepada urat dan daging bangsa. Namun, orang yang mempunyai cita-cita tidak peduli dengan tertawaan orang. Sebab cita-cita adalah perhitungan yang tepat dan memang orang yang mempunyai cita-cita itu dahulu datang dari waktunya.

Bandingkanlah!

“Orang yang Sekedar Hidup; Dengan Yang Hidup Tidak Sekedar”

Buku ini menyiratkan tentang, nilai dari himmah seseorang, secara sederhana Prof. Hamka membagi manusia menjadi dua. Pertama, ada yang hidup hanya sekedar untuk hidup. Mereka inilah yang hidup hanya sekedar menjalani rutinitas hingga tubuhnya masuk ke dalam kubur, sampai tulang hancur di dalam tanah, namanya dan hidupnya pun turut habis dengan tubuhnya, tidak menjadi peringatan, insipirasi, cerminan, percontohan bagi orang lain. Mereka inilah orang yang tidak mempunyai pendirian, lebih banyak hidupnya mencari aman, meski harus mengorbankan prinsip dan harga diri, dan biasanya mereka inilah yang takut mati karena mencintai hidup padahal di waktu hidupnya ia juga telah mati.

Kedua, adalah mereka yang hidup untuk suatu nilai dan arti perjuangan. Orang yang tambah hilang jasmaninya, tambah timbul kehidupannya, tambah digali orang, tambah keluar kelebihannya, tambah diperiksa orang tampak karomahnya, tambah diselidiki terpancar kejujurannya, dan tambah ditilik tambah jelas hakikat perjuangan hidupnya. Sehingga walaupun telah tiada jasadnya tetap abadi dan namanya tetap hidup selama dunia ini masihada. Mereka itulah pembentuk sejarah.

Selidiki, periksa dan alami kehidupanmu dengan seksama dan sadarilah bahwa itulah ia pendirian. Bagaiamana kamu menghadapi hidup, mengambil keputusan, dan menempuh jalan kebenaran itulah pendirianmu. Tapi jangan lupa, jika sudah benar jalanmu, pertahankanlah pendirian itu dan bawalah berjuang, dan ingat kamu harus menang sebab itulah ia hidup

Tegaslah dalam mengambil keputusan!

Beliau mengajarkan ketegasan. Kalau seorang pemuka, atau ahli pikir, ilmuan, atau ahli cita-cita, ia tidak berani menanggung resiko dari perjalanan hidupnya, lebih baik ia surut ke belakang; berhenti jadi jenderal, serahkan saja pedang kepada yang lebih pandai, kembali jadi serdadu saja, atau lebih baik pulang ke rumah, biarkan orang lain pula pergi ke medan perjuangan.

Ingat-Ingatlah Khutbah Socrates detik-detik sebelum ajalnya tiba!

“Wahai orang Athena semuanya! Bilamana putra-putraku dewasa kelak, bila Tuan-Tuan lihat anak-anak itu tidak mengacuhkan kebenaran, tidak berjalan yang lurus dalam hidup mereka, lebih dipengaruhi oleh harta benda dari pada mengejar keutamaan budi hendaklah Tuan-Tuan siksa mereka, seperti aku Tuan-Tuan siksa ini. Jika mereka menjadi sombong mereka sangka diri mereka berharga, padahal tidak ada harga mereka sepeser juga, adzablah mereka seperti Tuan-Tuan mengadzab aku ini. Kalau petaruh (wasiat) ini Tuan-Tuan jalankan, barulah Tuan bernama adil terhadap diriku dan anak-anakku.”

Judulnya yang sangat luar biasa; benar-benar menginterpretasikan isi, “Dari Lembah Cita-Cita”, Pembahasan cita-cita dibahas dari manusianya hingga ke akar-akarnya, Menariknya lagi  buku ini, memiliki ukuran minimalis, padat, menjurus ke inti penjelasan judul, ditambah dengan peletakan kotak yang diisi teks berfontase berbeda dipinggir halaman buku ini, sebagai penekanan poin berharga, sangat membantu pembaca mengingat pesan penting, jika tidak memiliki alat tulis untuk menandai bacaan dari kalimat yang ingin di garis bawahi. Alangkah bahagianya jika halaman buku ini bertambah sepuluh atau dua puluh lagi, akan luas jarak pandang, lapang hati membaca tercerahkan jiwa yang gersang akan siraman hati kakek dari tanah Minang.

Pada akhirnya, Bukunya buya hamka kali ini benar-benar kaya akan sejarah kebangsaan yang membangkitkan semangat seluruh pembaca, tua-muda jika ia rakyat Indonesia pasti akan bangga, jika dia berjiwa muda pasti berkobar semangat juang kemerdekaannyaI

Besar Manusia dengan akal dan budinya memang!

Namun Allah swt lebih besar dari segala-galanya di dunia dan akhirat sana!

Waallahu’aalam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *